Teori belajar klasik dan behavioristik

BAB I

A. PENDAHULUAN
Teori belajar Behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Metode behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membuthkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti : Kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau puji.
B. TUJUAN
Untuk mengetahui pengertian dari teori belajar behavioristik
Untuk mengetahui dan menjelaskan dari pemikiran berbagai tokoh-tokoh terhadap teori belajar Behavioristik
Untuk mengetahui dan menjelaskan apklikasi teori behavioristik terhadap pembelajaran siswa Untuk
Untuk mengatahui tujuan pembelajaran Behavioristik
Untuk Prinsip-prinsip teori pembelajaran behavioristik
Untuk mengetahui dan menjelaskan kelebihan dan kekurangan dalam teori pembelajaran Behavioristik
Untuk mengatahui teori belajar klasik




















BAB II

PEMBAHASAN

2 . Pengertian Teori Belajar Behavioristik
Teori behavioristik adalah teori beraliran behaviorisme yang merupakan salah satu aliran psikologi. Teori belajar behavioristik ini dikenal dengan sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.
Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan tingkah lakunya. Misalnya; siswa belum dapat dikatakan berhasil dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial jika dia belum bisa/tidak mau melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti; kerja bakti, ronda dll.
Menurut teori ini yang terpenting adalah :
1. Masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons.
Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa misalnya alat perkalian, alat peraga, pedoman kerja atau cara-cara tertentu untuk membantu belajar siswa, sedangkan respon adalah reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan guru tersebut.Teori ini juga mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal yang penting untuk melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
2. Penguatan (reinforcement)
Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Misalnya, ketika peserta didik diberi tugas oleh guru, ketika tugasnya ditambahkan maka ia akan semakin giat belajarnya, maka penambahan tugas tersebut merupakan penguatan positif dalam belajar, begitu juga sebaliknya.Prinsip-prinsip behaviorisme adalah :
1. Objek psikologi adalah tingkah laku
2. Semua bentuk tingkah laku dikemalikan kepada reflek
3. Mementingkan terbentuknya kebiasaan.

3. Tokoh-Tokoh dan Pemikirannya terhadap Teori Belajar Behavioristik.
a. Edward Lee Thorndike(1874-1949)
Thorndike adalah seorang pendidik dan sekaligus psikolog berkebangsaan Amerika uus S1 dari Universitas Weseyan tahun 1895,S2 dari Harvard Tahun 1896 dan meraih gear Dokter di Coumbia tahun 1898. Menurutnya” belajar merupakan proses interaksi antara Stimulus (S) yang mungkin berupa pikiran, perasaan atau gerakan dan Respon (R) yang juga berupa pikiran, perasaan atau gerakan.”
Stimulus adalah perubahan dari lingkungan exsternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi/berbuat. Sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Dari percobaannya yang terkenal (puzzle box) diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respon, perlu adanya kemampuan untuk memilih respon yang tepat serta melalui usaha-usaha atau percobaan-percobaan (trial) dan kegagalan-kegagalan (Error) terlebih dahulu. Bentuk paling dasar dari belajar adalah Trial and Error learning atau selecting and conecting learning dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh thorndike ini sering disebut teori belajar koneksionisme atau asosiasi.
Edward L. Thorndike dalam teori connectionism dari Amerika Serikat, menyatakan bahwa dasar dari belajar adalah asosiasi antara kesan panca indera dan inplus untuk bertindak atau terjadinya hubungan antara stimulus dan respon disebut Bond, sehingga dikenal dengan teori S – R Bond.
Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut
1. Hukum kesiapan (Law of readiness)
Yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasaan individu sehingga asosiasi cenderung di perkuat.
2. Hukum Latihan (law of exercise)
Yaitu semakin sering suatu tingkah laku di ulang/di latih (digunakan) ,maka asosiasi tersebut akan semakin kuat.
3. Hukum akibat (law of effect)
Yaitu hubungan stimulus respon cenderung di perkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan Selanjutnya Thorndike menambahan hukum tambahan sebagai berikut :
Hukum Reaksi Bervariasi (Multiple Response)
Hukum ini mengatakan bahwa pada individu diawali oleh proses trial dan eror yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang di hadapi.
Hukum sikap (set/attitude)
menjelaskan bahwa perilaku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus dengan respon saja,teteapi juga di tentukan keadfaan yang ada dalam diri individu baik kognitif,emosi,sosial,maupun psikomotornya.

Hukum Aktivitas Berat Sebelah (Prepotency of Element)
Bahwa individu dalam proses belajar memberikan respon hanya pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi (respon selektif) .
Hukum Respon by Analogy
Hukum ini mengatakan bahwa individu dapat melakukan respon pada situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal kesituasi baru. Makin banyak unsur yang sama/identik,maka transfer akan makin mudah .
Hukum perpindahan asosiasi (Associative Shifting)
Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang dikenal kesituasi yang belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikiut demi sedikit unsur lama.

b. Burhus Fredederic Skinner (1904-1990)

B. F. Skinner adalah seorang yang berkebangsaan Amerika yang dikenal sebagai seorang
tokoh behavioris yang meyakini bahwa perilaku individu dikontrol melalui proses operant
conditioning dimana seseorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian
reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan yang relatif besar. Gaya mengajar guru
dilakukan dengan beberapa pengantar dari guru secara searah dan dikontrol guru melalui
pengulangan (drill) dan latihan (exercise).

Menagement kelas menurut skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku
antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang
diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yang tidak tepat. Operant
Conditioning atau pengkondisian operan adalah suatu proses perilaku operant (penguatan
positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau
menghilang sesuai dengan keinginan.

Beberapa prinsip belajar Skinner antara lain :
Hasil belajar harus segera di beritahukan kepada siswa,jika salah dibetulkan,jika benar
diberi penguat.
Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
Materi pelajaran digunakan sistem modul.
Dalam proses pembelajaran ,lebih di pentingkan aktivitas sendiri.
Dalam proses pembelajaran,tidak digunakan hukuman. Untuk ini,lingkungan perlu diubah .
untuk menghindari adanya hukuman.
Tingkah laku yang diinginkan pendidik,diberi hadian,dan sebaiknya hadian diberikan.
dengan jadwal variable rasio reinforcer.
Dalam pembelajaran,digunakan shaping.


c. David Ausubel
Lahir pada 25 Oktober 1918 di Brooklyn New York.Belajar menurut Ausubel adalah
proses internal yang tidak dapat diamatisecara langsung. Perubahan terjadi dalam
kemampuan seseorang untuk bertingkahlaku dan berbuat dalam situasi tertentu, perubahan
dalam tingkah laku hanyalahsuatu reflek dari perubahan internal (berbeda dengan aliran
behaviorisme, aliran kognitif mempelajari aspek-aspek yang tidak dapat diamati secara
langsungseperti, pengetahuan, arti, perasaan, keinginan, kreativitas, harapan dan pikiran).

Belajar bermakna menurut Ausubel merupakan suatu proses dikaitkannya informasi
barupada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang faktor yang paling penting yang mempengaruhi belajar adalah apa yang telah diketahui siswa.Pandangan Ausubel agak berlawanan dengan Burner yang beranggapan bahwa belajar dengan menemukan sendiri (discovery learning) adalah sesuaidengan hakikat manusia sebagai seorang yang mencari-cari secara aktif dan menghasilkan pengetahuan serta pemahaman yang sungguh-sungguh bermakna Sedang menurut Ausubel kebanyakan orang belajar terutama dengan menerima dari orang lain (reception learning).

d. Robert Gagne
Gagne adalah seorang psikolog pendidikan berkebangsaan Amerika yang terkenal
dengan penemuannya berupa Conditions of Learning. Ia lahir pada 21 Agustus 1918.
Teori Gagne banyak dipakai untuk mendesain software instruksional (program –
program berupa drill, tutorial atau simulasi). Kontribusi terbesar dari teori instruksional
Gagne adalah “9 kondisi Instruksional” yaitu :

Mendapatkan perhatian
Menginformasikan siswa mengenai tujuan yang akan dicapai
Stimulasi kemampuan dasar siswa untuk persiapan belajar
Penyajian materi baru
Menyediakan pembimbingan
Memunculkan tindakan
Siap memberikan umpan balik langsung terhadap hasil yang baik
Menilai hasil belajar yang ditunjukkan
Meningkatkan proses penyimpanan memori dan mengingat

Gagne mencatat ada delapan tipe belajar :
Belajar isyarat (signal learning)
Belajar stimulus respon
Belajar merantaikan (chaining)
Belajar asosiasi verbal (verbal Association)
Belajar membedakan (discrimination)
Belajar konsep (concept learning)
Belajar dalil (rule learning)
Belajar memecahkan masalah (problem solving)

e. Albert Bandura
Bandura lahir tanggal 4 Desember 1925 di Mundare Alberta. Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. Teori belajar sosial 10 bandura menunjukkan pentingnya proses mengamati dan meniru perilaku, sikap dan reaksi emosi orang lain.

Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku dan pengaruh lingkungan.
Faktor – faktor yang berproses dalam belajar observasi adalah :

Perhatian (atensi), mencakup peristiwa peniruan (adanya kejelasan, keterlibatan perasaan, tingkat kerumitan, kelaziman, nilai fungsi) dan karakteristik pengamat
(kemampuan indra, minat, presepsi, penguatan sebelumnya).
Penyimpanan atau proses mengingat, mencakup kode pengkodean simbolik,
pengorganisasian pikiran, pengulangan simbol, pengulangan motorik
Reproduksi motorik, mencakup kemampuan fisik, kemampuan meniru, keakuratan
umpan balik
Motivasi, mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri.

4. Aplikasi teori behaviorisme terhadap pembelajaran Siswa
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran yaitu karena memandang pengetahuan adalah objektif, pasti, tetap dan tidak berubah pengetahuan disusun dengan rapi sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowladge) kepada orang yang belajar. Fungsi pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yang sudah ada melalui proses berfikir yang dapat dianalisis dan dipilih, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berfikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Ciri – ciri kuat yang mendasari penerapan teori behavioristik :
1. Mementingkan pengaruh lingkungan
2. Mementingkan bagian – bagian (elementalistik)
3. Mementingkan peranan reaksi
4. Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya
5. Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan.
6. Mengutaman mekanime terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon
7. Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan


5.Tujuan Pembelajaran Behavioristik
Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas mimetic, yang menuntut pembelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada ketrampilan yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan.
1. Berkomunikasi atau transfer prilaku adalah pengambaran pengetahuan dan kecakapan peserta didik (tidak mempertimbangkan proses mental).
2. Pengajaran adalah untuk memperoleh keinginan respon dari peserta didik yang dimunculkan dari stimulus
3. Peserta didik harus mengenali bagaimana mendapatkan respon sebaik mungkin pada kondisi respon diciptakan.
Evaluasi menekankan pada respon pasif, ketrampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntut jawaban yang benar. Maksudnya bila pembelajar menjawab secara benar sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukkan bahwa pebelajar telah menyelesaikan tugas belajarnya. Evaluasi belajar dipandang sebagi bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan pebelajar secara individual.

6. Prinsip-prinsip teori Pembelajaran Behavioristik
Berikut ini adalah prinsip-prinsip pembelajaran behavioristik menekankan pada pengaruh lingkungan terhadap perubahan perilaku :
1. Mengunakan prinsip penguatan, yaitu untuk menidentifikasi aspek paling diperlukan dalam pembelajaran untuk mengarahkan kondisi agar peserta didik dapat mencapai peningkatan yang diharapkan dalam tujuan pembelajaran.
2. Menidentifikasi karakteristik peserta didik, untuk menetapkan pencapaian tujuan pembelajaran.
3. Lebih menekankan pada hasil belajar daripada proses pembelajaran.

7. Kelebihan dan kekurangan dalam teori pembelajaran behavioristik
Dalam teknik pembelajaran yang merujuk ke teori behavioristik terdapat beberapa kelebihan di antaranya :
1) Membiasakan guru untuk bersikap jeli dan peka pada situasi dan kondisi belajar.
2) Metode behavioristik ini sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: kecepatan, spontanitas, kelenturan, refleksi, daya tahan, dan sebagainya.
3) Guru tidak banyak memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan belajar mandiri. Jika menemukan kesulitan baru ditanyakan kepada guru yang bersangkutan
4) Teori ini cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa , suka mengulangi dan harus dibiasakan , suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.
b. Kekurangan :
1. Memandang belajar merupakan asosiasi belaka antara stimulus dan respon
2. Mengabaikan pengertian belajar sebagai unsur pokok
3. Proses belajar berlangsung secara teori
Selain teorinya, beberapa kekurangan perlu dicermati guru dalam menentukan teknik pembelajaran yang mengacu ke teori ini, antara lain:
a) Sebuah konsekuensi bagi guru, untuk menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap
b) Tidak setiap mata pelajaran bisa menggunakan metode ini
c) Penerapan teori behavioristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid
d) Murid berperan sebagai pendengar dalam proses pembelajaran dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif
e) Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oleh para tokoh behavioristik justru dianggap metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa
f) Murid dipandang pasif, perlu motivasi dari luar dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru.

8. Teori Klasik
Sebelum Abad ke-20, Teori Belajar Klasik :
a. Menurut teori humanistik tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika siswa telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Dengan kata lain, siswa telah mampu mencapai aktualisasi diri secara optimal. Teori humanistik cenderung bersifat eklektik, maksudnya teori ini dapat memanfaatkan teori apa saja asal tujuannya tercapai. Aplikasi teori humanistik dalam kegiatan pembelajaran cenderung mendorong siswa untuk berfikir induktif. Teori ini juga amat mementingan faktor pengalaman dan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar.
Teori disiplin mental humanistic, bersumber pada psikologi humanisme klasik dari Plato dan Aristoteles. Humanistic terbagi menjadi dua yaitu pschycidelic (dengan melakukan sendiri), dan scientistic (dengan memecahkan masalah). Teori ini hampir sama dengan teori pertama bahwa anak memiliki potensi-potensi. Potensi perlu dilatih agar berkembang. Perbedaannya dengan teori disiplin mental theistic , teori tersebut menekankan, keseluruhan, keutuhan. Pendidikanya menekankan bagian-bagian, latihan bagian atau aspek tertentu. Teori disiplin mental humanistic lebih menekankan pendidikan umum (general education) kalau orang menguasi hal-hal yang bersifat umum akan mudah ditransfer atau diaplikasikan pada hal-hal yang bersifat yg khusus.
b. Teori disiplin mental theistic, berasal dari psikologi daya. Menurut teori ini individu atau anak mepunyai sejumlah daya mental seperti daya untuk mengamati, menganggap, mengingat, berfikir, memecahkan masalah dan sebagainya. Belajar merupakan proses melatih daya-daya tersebut. Jika daya-daya tersebut terlatih maka dengan mudah dapat digunakan untuk menhadapi atau memecahkan berbagai masalah.
kosong yang siap ditulis oleh pendidik dan lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap anak itu nantinya”.
• M. David Merril (Kognitif)
Pelajaran diklasifikasikan menjadi 4, antara lain :
1. Fakta
2. Konsep
3. Prosedur
4. Prinsip
Tingkatan yang paling tinggi adalah menemukan prinsip. Tingkatan yang paling rendah adalah mengingat fakta
c. Teori naturalisme (perkembangan alamiah) atau unfoldment atau self actualization. Teori ini berpangkal dari psikologi naturalisme romantic, dengan tokoh utamanya Jean Jacques Rouseau. Sama dengan teori kedua sebelumnya bahwa anak mempunyai sejumlah potensi atau kemampuan. Kelebihan dari teori ini, berasumsi bahwa individu bukan saja hanya mempunyai potensi atau kemampuan untuk berbuat atau melakukan berbagai tugas, tetapi juga memiliki kemauan dan kemampuan untuk belajar dan belajar sendiri. Agar anak dapat berkembang dan menaktualisasikan segala potensi yang dimilikinya. Pendidik atau guru perlu menciptakan situasi permisif yang jelas. Melalui situasi demikian, ia dapat belajar sendiri dan mencapai perkembangan secara optimal.
d. Teori belajar yang keempat adlah teori apersepsi, disebut juga herbartisme, bersumber pada psikologi structuralisme dengan tokoh utamanya Herbart. Menurut aliran ini, belajar adalah membentuk masa apersepsi. Anak mempunyai kemampuan untuk mempelajari sesuatu. Hasil dari suatu perbuatan belajar disimpan dan membentuk suatu masa apersepsi (mengasosiasikan gagasa-gagasan yang lama kegagasan baru), dan masa apersepsi ini digunakan untuk mempelajari atau menguasai pengetahuan selanjutnya, semakin tinggi perkembangan anak, semakin tinggi pula masa apersepsinya.
Teori belajar klasik didasarkan pada pemikiran para filosifis yang bersifat subyektif:
1. Teori disiplin mental / psikologi fakultas / psikologi unsur
Belajar melalui instropeksi otak mns terdiri atas bagian-bagian yang memiliki tugas berbeda (Berpikir, meraba, fantasi, perasaan, kehendak) jiwa mns terdiri dari unsur-unsur tertentu dan unsur-unsur tersebut disebut dengan daya-daya jiwa. Orang akan dapat belajar jika mentalnya dilatih dengan keras terutama daya nalarnya dan selanjutnya belajar identik dengan mengasah otak.
Pandangan klasik : Orang pintar adalah orang yang menguasai ilmu pasti (logis matematik dan logis bahasa).
2. Teori Humanisme klasik (Maslow)/ Naturalisme (J.J. Rosseou dan Pestalzzi.)
• Maslow
Ia mengumpulkan biografi orang-orang terkenal dari berbagai bidang. Semua orang yang normal berpotensi untuk menjadi orang hebat.
Manusia sebagai satu kepribadian yang utuh jiwa manusia ada tiga aspek, antara lain : Afeksi, Kognitif, Psikomotor.
• J.J. Rosseou dan Pestalzzi
Anak pada waktu dilahirkan adalah baik, jika anak itu menjadi rusak itu karena pengaruh dari lingkungan disekitar anak tersebut. Karena pada masa itu moral manusia pada level yang terpuruk.
Belajar : Biarlah anak tumbuh kembang secara alamiah, jangan diapa-apakan, freedom to learn : biarlah anak belajar dengan bebas karena orang dapat mengaktualisasi dirinya jika orang tersebut tidak diganggu.
3. Teori Apersepsi dan teori Tabularasa / Impirisme
– Otak manusia seperti wadah yang siap mengkopi (Diisi) dengan apa saja dan pengetahuan yang telah masuk tersebut disebut Apersepsi
– Teori tabularasa / Empirisme oleh Jhon Lock “ Anak bagaikan kertas kosong yang siap ditulis oleh Pendidikan dan lingkungan yang mempunyai pengaruhnterhadap anak itu intinya .



























BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Teori behavioristik berpendapat bahwa semua perilaku dapat dijelaskan oleh sebab-sebab lingkngan, bukan oleh kekuatan internal. Behavioristik berpaku pada prilaku yang dapat diamati. Guru-guru yang menganut pandangan ini berpendapat, bahwa tingkah laku murid-murid merupakan reaksi-reaksi terhadap lingkungan mereka pada masa lalu dan masa sekarang dan bahwa segenap tingkah laku merupakan hasil belajar.
Kami selaku penulis sangat menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih sangat banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat kami harapkan. Sebagai bahan evalusi untuk pembuatan makalah-makalah yang selanjutnya.
Tokoh-Tokoh dan Pemikirannya terhadap Teori Belajar Behavioristik. :
Edward Lee Thorndike (1874-1949)
Burhus Fredederic Skinner (1904-1990)
David Ausubel
Robert Gagne
Ivan Petrovich Pavlov
Albert Bandura

2. Saran
Kita sebagai calon guru harusnya mampu mendidik para peserta didik kita dengan baik, dengan metode serta teori yang tepat sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan baik. Oleh karena itu pelajarilah teori-teori pembelajaran yang ada agar kita mampu menemukan kecocokan dalam metode mengajar yang tepat.

DISKUSI
1.Menururt apakah anda teori behavioristik dapat diterapkan
2.Jelaskan contoh belajar menggunakan teori behavioristik
3.Menurut anda apa saja saja didalam teori behavioristik yang terpenting dalam belajar
4. Apa yang harus dilakukan guru dalam menerapkan teori behavioristik
5.Apa kelemahan dari teori belajar behavioristik
6.Manfaat dari teori behavioristik







F. DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu, Psikologi Belajar, Jakarta : PT. Asdi Mahasatya, 2004
B. Uno, Hamzah, Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran, Jakarta : PT Bumi Aksara, 2006
Bambang warsita, Teknologi pembelajaran, Rineka cipta, 2008.
Budiningsih, C., Asri , Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005
Kamalfachri, “Teori Behavioristik”, dalam Websitefile:///H:/Teori behavioristik dan Permaslahan/Kamalfachri. Weblog.htm, data diakses pada tanggal 2 Juni 2011.
Gage, N.L., & Berliner, D. Educational Psychology, 1979.
Hall S. Calvin & Lindzey, Gardner, Psikology kebribadian 3, Teori-Teori sifat dan behavioristik(diterjemahkan dari bukuTheories of personality, New york, Santa barbara Toronto, 1978) , yogyakarta: Kanisius, 1993.
Riyanto, Yatim, Paradigma Baru Pembelajaran, Jakarta : Pranada Media Group, 2009Skinner, The Behavior of Organism, 1989.
Slavin, Belajar dan Pembelajaran, 2000.
Sukardjo, Landasan Pendidikan Konsep dan Aplikasinya, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2009
Yamin, Martinis, Paradigma Baru Pembelajaran, Jakarta : Gaung Persada Press, 2011Kamalfachri, “Teori Behavioristik”, dalam Websitefile:///H:/Teori behavioristik dan Permaslahan/Kamalfachri. Weblog.htm, data diakses pada tanggal 2 Juni 2011.Diposkan oleh Ismail M.Pd.I di 00.49.

Diterbitkan oleh Fitrifitri

Strong

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai