A. Latar Belakang
Mengajar pada hakekatnya bermaksud mengantar siswa mencapai tujuan yang telah direncanakan sebelumnya sehingga dalam prakteknya perilaku mengajar ditunjukkan dengan beraneka ragam meskipun maksudnya sama yang sering diistilahkan sebagai gaya mengajar. Hal ini dapat dikatakan bahwa gaya mengajar guru dapat menjadi penentu pencapaian tujuan pembelajaran.
Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan formal dilembaga pendidikan, yang didalamnya terjadi interaksi antar berbagai komponen pembelajaran. Komponen-komponen pembelajaran itu meliputi: guru, siswa, tujuan, model pembelajaran, metode pembelajaran, media dan evaluasi. Interaksi antar komponen di atas berlangsung sebagai berikut : guru menerapkan beberapa model pembelajaran yang memunginkan siswa belajar proses bukan hanya belajar produk. Oleh karena itu, tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Pemilihan suatu model pembelajaran tentu harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan sifat materi yang akan diajarkan kepada peserta didik. Pada hakikatnya tidak pernah terjadi satu materi pelajaran disajikan dengan menggunakan hanya satu model pembelajaran. Pembelajaran dengan menggunakan banyak model akan menunjang pencapaian tujuan pembelajaran yang lebih bermakna. Pembelajaran dengan menggunakan banyak model dilakukan agar tujuan pembelajaran yang telah disusun dapat tercapai dengan baik karena tidak semua model pembelajaran cocok dengan materi pelajaran yang akan diajarkan. Oleh karena itu, pemilihan pendekatan, metode, dan model pembelajaran sangat penting dalam pelaksanaan pembelajaran.
Dalam hal ini, guru perlu menyusun dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar dimana siswa dapat aktif membangun pengetahuannya sendiri. Hal ini sesuai dengan pandangan kontruktivisme yaitu keberhasilan belajar tidak hanya bergantung pada lingkungan atau kondisi belajar, tetapi juga pada pengetahuan awal siswa. Keberhasilan dalam proses pembelajaran dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang berkaitan dengan diri siswa, diantaranya adalah kemampuan, minat, motivasi, keaktifan belajar dan lain-lain. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor dari luar diri siswa, diantaranya adalah model pembelajaran.
Model pembelajaran memiliki andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Kemampuan menangkap pelajaran oleh siswa dapat dipengaruhi dari pemilihan model pembelajaran yang tepat, sehingga tujuan pembelajaran yang ditetapkan akan tercapai. Terdapat berbagai macam model pembelajaran yang dapat dijadikan alternatif bagi guru untuk menjadikan kegiatan pembelajaran di kelas berlangsung efektif dan optimal. Salah satunya yaitu dengan menggunakan model pembelajaran problem solving.
Model pembelajaran problem solving merupakan strategi pembelajaran yang banyak dikembangkan saat ini, karena sesuai dengan kurikulum saat ini yang menginginkan bahwa siswa yang lebih aktif dalam proses pembelajaran. Strategi pembelajaran problem solving juga dapat melatih kemampuan siswa dalam menganalisis setiap masalah yang diberikan kepada mereka.
Pembelajaran problem solving adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dalam usaha mencari pemecahan/jawaban oleh siswa. Penyelesaian masalah menurut Johnson dan Johnson dalam Thobrani dan Musthofa dilakukan melalui kelompok. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran problem solving adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung dan dapat melatih siswa untuk menghadapi berbagai masalah serta mencari pemecahan masalah atau solusi dari permasalahan tersebut baik secara individu maupun kelompok.
Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran problem solving?
Apa saja ciri-ciri model pembelajaran problem solving?
Apa saja kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran problem solving?
Bagaimanakah pengaruh MIPA sebagai pengembangan problem solving?
Tujuan Penulisan
Untuk menjelaskan pengertian model pembelajaran problem solving.
Untuk menjelaskan ciri-ciri model pembelajaran problem solving.
Untuk menjelaskan kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran problem solving
Untuk mengetahui pengaruh MIPA sebagai pengembangan problem solving
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Pembelajaran Problem Solving
Problem solving adalah belajar memecahkan masalah. Pada tingkat ini peserta didik belajar merumuskan pemecahan masalah, memberikan respon terhadap rangsangan yang menggambarkan atau membangkitkan situasi problematika, yang menggunakan semua kaidah yang dikuasainya. Pemecahan masalah adalah suatu proses kompleks yang menuntut seseorang untuk mengkoordinasikan pengalaman, pengetahuan, pemahaman, dan intuisi dalam rangka memenuhi tuntutan dari suatu situasi.
Problem solving adalah suatu proses mental dan intelektual dalam menemukan masalah dan memecahkan berdasarkan data dan informasi yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat. Problem solving yaitu suatu pendekatan dengan cara problem identifikasi untuk ketahap sintesis kemudian dianalisis yaitu pemilahan seluruh masalah sehingga mencapai tahap application selajutnya komprehension untuk mendapatkan solution dalam penyelesaian masalah tersebut.
Berdasarkan beberapa konsep tentang pemecahan masalah (problem solving) seperti tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud model pembelajaran problem solving adalah suatu strategi pembelajaran yang mengaktifkan siswa dan dapat melatih siswa untuk menghadapi berbagai masalah serta dapat mencari pemecahan masalah atau solusi dari permasalahan yang ada tersebut.
Mengajar memecahkan masalah berbeda dengan penggunaan pemecahan masalah sebagai suatu strategi pembelajaran. Mengajar memecahkan masalah adalah mengajar bagaimana siswa memecahkan suatu permasalahan. Sedangkan strategi pembelajaran pemecahan masalah (problem solving) adalah teknik mengajar melalui pemecahan masalah. Dengan demikian perbedaan keduanya terletak pada kedudukan pemecahan masalah itu sendiri. Mengajar memecahkan masalah berarti, pemecahan masalah itu sebagai isi atau content dari pelajaran, sedangkan pemecahan masalah sebagai suatu strategi berarti kedudukan pemecahan masalah itu hanya sebagai suatu alat saja untuk memahami materi pengajaran. Untuk menggunakan problem solving sebagai sebuah strategi pembelajaran, pendidik perlu melalukan kerja lebih banyak dibandingkan hanya memberikan beberapa permasalahan di papan tulis, kemudian membiarkan peserta didik berlatih dengan mengerjakan permasalahan tersebut. Pendidik perlu menjelaskan kepada peserta didik apa yang pendidik inginkan untuk dipelajari oleh peserta didik, mengapa pendidik menggunakan pemecahan masalah untuk mengajar, dan harapan pendidik tentang interaksi antara peserta didik dan peserta didik, serta interaksi antara peserta didik dan peserta didik lainnya. Melalui proses pembelajaran ini, fokus pendidik adalah membantu peserta didik untuk mengembangkan pemahaman mereka mengenai konsep-konsep penting (bukan hanya prosedur pemecahan masalah). Pencapaian terbaik didapatkan dengan permasalahan yang nyata dan menggunakan waktu lama untuk memecahkannya serta mampu mendorong peserta didik untuk mengembangkan pemahaman secara mendalam dibandingkan permasalahan yang membutuhkan waktu yang singkat untuk dipecahkan.
Tujuan Utama Pembelajaran Problem Solving
Tujuan pembelajaran berbasis masalah adalah penguasaan isi belajar dari disiplin heuristic dan pengembangan keterampilan pemecahan masalah. Ibrahim dan Nur mengemukakan tujuan problem solving secara rinc, yaitu:
Membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah.
Belajar berbagi peran melalui keterlibatan dalam pengalaman nyata.
Menjadi para siswa yang otonom.
Manfaat Pembelajaran Problem Solving
Manfaat dari problem solving pada proses belajar mengajar untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih menarik. Menurut Djahiri model problem solving memberikan beberapa manfaat antara lain:
Mengembangkan sikap ketrampilan siswa dalam memecahakan permasalahan, serta dalam mengambil keputusan secara objektif dan mandiri.
Mengembangkan kemampuan berpikir pada siswa, anggapan yang menyatakan
Bahwa kemampuan berpikir akan lahir bila pengetahuan makin bertambah
Melalui problem solving kemampuan berpikir tadi, diproses dalam situasi atau
keadaan yang benar-benar di hayati, dimintai siswa serta dalam berbagai macam ragam alternatif.
Membina pengembangan sikap perasaan ingin tahu lebih jauh dan cara berpikir Objektif -mandiri krisis-analisis baik secara individual maupun kelompok.
Ciri-ciri Pembelajaran Problem Solving
Ciri-ciri pembelajaran problem solving menurut Tjadimojo yaitu :
Model problem solving merupakan rangkaian pembelajaran artinya dalam
Implementasi problem solving ada sejumlah kegiatan yang harus di lakukan
Siswa.
Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah, model ini
Menempatkan sebagai dari proses pembelajaran.
Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berfikir secara
ilmiah.
Menurut Mbulu, ciri-ciri permasalahan yang baik sesuai dengan tujuan dari pembelajaran model pembelajaran problem solving yaitu :
Permasalahan hendaknya nyata dan dapat mengembangkan atau mempertinggi
Mental siswa-siswa untuk memecahkanya
Permasalahan hendaknya bermakna bagi siswa-siswa sehingga mereka
Mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.
Permasalahan hendaknya sama dengan tujuan sekolah atau pendidikan dan sesuai
Pula dengan lingkungan belajar siswa.
Permasalahan hendaknya sesuai dengan kemampuan siswa-siswa yang
Memungkinkan mereka dapat melaksanakanya.
E. Tahap-tahap Problem Solving
Menurut J. Dewey dalam bukunya W. Gulo (2002:115), Problem solving dapat dilakukan melalui enam tahapan yaitu:
Merumuskan Masalah; Mengetahui dan merumuskan masalah secara jelas
Menelaah Masalah: Menggunakan pengetahuan untuk memperinci, menganalisa Masalah dari berbagai sudut.
Merumuskan Hipotesi: Berimajinasi dan menghayati ruang lingkup, sebab-sebab dan Alternatif penyelesaian.
Mengumpulkan dan Mengelompokkan Data Sebagai Bahan Pembuktian HipotesiKecakapan mencari dan menyusun data menyajikan data dalam bentuk diagram, gambadan tabel.
Pembuktian Hipotesis Kecakapan menelaah dan membahas data, kecakapan menghubung-hubungkan dan menghitung keterampilan mengambil keputusan dan kesimpulan.
Menentukan Pilihan Penyelesaian Kecakapan mebuat alternatif penyelesaian kecakapan dengan memperhitungkan akibat yang terjadi pada setiap pilihan.
Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran Problem Solving
Kelebihan Pendekatan Pembelajaran Problem Solving
Setiap pendekatan tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan Problem Solving merangsang perkembangan anak untuk berpikir seperti yang dikemukakan Muhsetyo (2007:127) yaitu:
Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
Berpikir dan bertindak kreatif
Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis.
Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
Merangsang perkembangan kemajuan berpikir siswa untuk menyelesaikan maslah yang dihadapi dengan tepat.
Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan.
Kemudian pemecahan masalah dapat membiasakan para siswa menghadapi dan memecahkan masalah secara terampil, seperti yang dikemukakan Djamarah dan Zain (2006:93) mengemukakan bahwa Kelebihan Problem Solving yaitu:
Dapat membuat pendidikan di sekolah menjadi lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dengan dunia kerja.
Proses belajar mengajar melalui pemecahan masalah dapat membiasakan para siswa menghadapi dan memecahkan masalah secara terampil, apabila menghadapi permasalahan di dalam kehidupan dalam keluarga, bermasyarakat, dan bekerja kelak, suatu kemampuan yang sangat bermakna bagi kehidupan manusia.
Metode ini merangsang pengembangan kemampuan berpikir siswa secara kreatif dan menyeluruh, karena dalam proses belajarnya, siswa banyak melakukan mental dengan menyoroti permasalahan dari berbagai segi dalam rangka mencari pemecahan.
Senada dengan pendapat di atas, Kelebihan Problem Solving merangsang pengembangan kemampuan berpikir siswa secara kreatif dan menyeluruh, seperti yang dikemukakan Heryawan (2007:127) mengemukakan Kelebihan Problem Solving yaitu:
Membuat pendidikan di sekolah menjadi lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dengan dunia kerja.
Proses belajar mengajar melalui pemecahan masalah dapat membiasakan para siswa menghadapi dan memecahkan masalah secara terampil, apabila menghadapi permasalahan di dalam kehidupan dalam keluarga, bermasyarakat, dan bekerja kelak, suatu kemampuan yang sangat bermakna bagi kehidupan manusia.
Metode ini merangsang pengembangan kemampuan berpikir siswa secara kreatif dan menyeluruh, karena dalam proses belajarnya, siswa banyak melakukan mental dengan menyoroti permasalahan dari berbagai segi dalam rangka mencari pemecahannya.
Kekurangan Pendekatan Pembelajaran Problem Solving
Kelemahan Problem Solving Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat berpikir siswa, tingkat sekolah dan kelasnya serta pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki siswa, sangat memerlukan kemampuan dan keterampilan guru. Kurangnya pengetahuan dan keahlian guru seperti yang dikemukakan Mutadi (2010) yaitu:
Kurangnya pengetahuan dan keahlian guru dalam menerapkan Problem Solving.
Isi dari kurikulum sangat padat dan tidak memberikan celah untuk Problem Solving.
Sistem pengujian masih disentralkan dan tidak relevan dengan Problem Solving
Kemudian Djamaran dan Zain (2006:92) mengemukakan bahwa kelemahan Problem Solving yaitu:
Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat berpikir siswa, tingkat sekolah dan kelasnya serta pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki siswa, sangat memerlukan kemampuan dan keterampilan guru.
Proses belajar mengajar dengan menggunakan pendekatan ini sering memerlukan waktu yang cukup banyak.
Mengubah kebiasaan siswa belajar dengan mendengarkan dan menerima informasi dari guru menjadi belajar dengan banyak berpikir memecahkan permasalahan sendiri atau kelompok, yang kadang-kadang memerlukan berbagai sumber belajar, merupakan kesulitan tersendiri bagi siswa.
Kelemahan Problem Solving guru menjadi belajar dengan banyak berpikir memecahkan permasalahan sendiri atau kelompok, yang kadang-kadang memerlukan berbagai sumber belajar, merupakan kesulitan tersendiri bagi siswa seperti yang dikemukakan, Heryawan (2007:127) kelemahan Problem Solving yaitu:
Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat berpikir siswa, tingkat sekolah dan kelasnya serta pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki siswa, sangat memerlukan kemampuan dan keterampilan guru.
Proses belajar mengajar dengan menggunakan pendekatan ini sering memerlukan waktu yang cukup banyak.
Mengubah kebiasaan siswa belajar dengan mendengarkan dan menerima informasi dari guru menjadi belajar dengan banyak berpikir memecahkan permasalahan sendiri atau kelompok, yang kadang-kadang memerlukan berbagai sumber belajar, merupakan kesulitan tersendiri bagi siswa.
Pengaruh MIPA sebagai pengembangan problem solving
Pembelajaran MIPA membutuhkan problem solving dalam pelaksanaannya. Hal ini turut mengembangkan kemampuan peserta didik dan hasil belajar peserta didik. Karena MIPA merupakan cabang ilmu yang mempelajari hal-hal yang bersifat abstrak, menekankan proses deduktif yang memerlukan penalaran logis dan aksiomatik yang mungkin diawali dari proses induktif, yang meliputi penyusunan konjektur, model MIPA, analogi dan atau generalisasi berdasarkan pengamatan terhadap sejumlah data. Karakteristik lain dari MIPA adalah merupakan ilmu terstruktur dan sistematis. Dalam arti bagian-bagian MIPA tersusun secara hierarkis dan terjalin dalam hubungan fungsional yang erat dan sifat keteraturan yang indah, yang akan membantu menghasilkan model matematis yang diperlukan dalam pemecahan masalah di berbagai cabang ilmu pengetahuan dan masalah kehidupan sehari-hari.
Istilah problem solving sering digunakan dalam berbagai bidang ilmu dan memiliki pengertian yang berbeda-beda pula. Tetapi problem solving dalam MIPA memiliki kekhasan tersendiri. Secara garis besar terdapat tiga macam interpretasi istilah problem solving dalam pembelajaran MIPA, yaitu (1) problem solving sebagai tujuan (as a goal), (2) problem solving sebagai proses (as a process), dan (3) problem solving sebagai keterampilan dasar (as a basic skill) (Sumardyono, 2010).
Problem solving sebagai tujuan (problem solving as a goal)
Para pendidik, MIPAwan, dan pihak yang menaruh perhatian pada pendidikan MIPA seringkali menetapkan problem solving sebagai salah satu tujuan pembelajaran MIPA. Bila problem solving ditetapkan atau dianggap sebagai tujuan pengajaran maka ia tidak tergantung pada soal atau masalah yang khusus, prosedur, atau metode, dan juga isi MIPA. Anggapan yang penting dalam hal ini adalah bahwa pembelajaran tentang bagaimana menyelesaikan masalah (solve problems) merupakan “alasan utama” (primary reason) belajar MIPA.
Salah satu tujuan pembelajaran MIPA dalam KTSP yang tercantum dalam standar isi adalah agar peserta didik memiliki kemampuan memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model MIPA, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran MIPA yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai penyelesaian.
Problem solving sebagai proses (problem solving as a process)
Pengertian lain tentang problem solving adalah sebagai sebuah proses yang dinamis. Dalam aspek ini, problem solving dapat diartikan sebagai proses mengaplikasikan segala pengetahuan yang dimiliki pada situasi yang baru dan tidak biasa. Dalam interpretasi ini, yang perlu diperhatikan adalah metode, prosedur, strategi dan heuristik yang digunakan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah.
Masalah proses ini sangat penting dalam belajar MIPA dan yang demikian ini sering menjadi fokus dalam kurikulum MIPA. Sebenarnya, bagaimana seseorang melakukan proses problem solving dan bagaimana seseorang mengajarkannya tidak sepenuhnya dapat dimengerti. Tetapi usaha untuk membuat dan menguji beberapa teori tentang pemrosesan informasi atau proses problem solving telah banyak dilakukan. Dan semua ini memberikan beberapa prinsip dasar atau petunjuk dalam belajar problem solving dan aplikasi dalam pengajaran.
Beberapa prinsip dasar atau karakteristik pembelajaran menggunakan pendekatan Problem Soving adalah sebagai berikut:
Adanya interaksi antar siswa dan interaksi guru dan siswa.
Adanya dialog matematis dan konsensus antar siswa.
Guru menyediakan informasi yang cukup mengenai masalah, dan siswa mengklarifikasi, menginterpretasi, dan mencoba mengkonstruksi penyelesaiannya.
Guru menerima jawaban ya-tidak bukan untuk mengevaluasi.
Guru membimbing, melatih dan menanyakan dengan pertanyaan-pertanyaan berwawasan dan berbagi dalam proses pemecahan masalah.
Sebaiknya guru mengetahui kapan campur tangan dan kapan mundur membiarkan siswa menggunakan caranya sendiri.
Karakteristik lanjutan adalah bahwa pendekatan problem solving dapat menggiatkan siswa untuk melakukan generalisasi aturan dan konsep, sebuah proses sentral dalam MIPA.
Problem solving sebagai keterampilan dasar (problem solving as a basic skill).
Problem solving merupakan suatu keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh siswa. Apalagi kompetensi yang diperlukan untuk menghadapi tantangan global semakin meningkat, salah satunya kemampuan memecahkan masalah.
Tujuan utama dari penggunaan Problem Solving adalah mengembangkan kemampuan siswa memecahkan masalah secara tepat. Adapun tujuan spesifik Problem Solving dalam MIPA adalah sebagai berikut :
a) Meningkatkan minat siswa untuk mencoba menyelesaikan masalah dan meningkatkan kemampuan mereka memecahkan msalah.
b) Mengembangkan kemampuan konsep diri siswa sesuai dengan kemampuan untuk memecahkan masalah
c) Membuat siswa tanggap dengan strategi-strategi Problem-solving.
d) Membuat siswa tanggap dengan nilai-nilai pendekatan masalah dalam cara yang sistematis.
e) Membuat siswa dapat menyelesaikan masalah dalam lebih dari satu cara.
f) Mengembangkan kemampuan siswa untuk memilih strategi penyelesaian yang sesuai..
g) Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengimplementasikan strategi penyelesaian secara akurat.
h) Meningkatkan kemampuan siswa untuk memperoleh jawaban yang lebih tepat dari permsalahan.
Posamentier dan Stepelmen mengutip dari salah satu paper pada The National Council of Supervisors of Mathematics (NCSM) edisi Juni 1998, yang berjudul Essential Mathematics for the 21 st Century, yang intinya problem solving merupakan komponen pertama dari esensi MIPA, disimpulkan bahwa :
1) Pembelajaran untuk menyelesaikan masalah adalah alasan yang paling prinsip untuk mempelajari MIPA.
2) Problem solving merupakan penerapan dari pengetahuan yang sebelumnya untuk situasi (persoalan) yang tidak biasa atau persoalan yang baru.
3) Penyelesaian soal cerita dalam suatu wacana merupakan salah satu bentuk problem solvining, di samping siswa harus diberi pengalaman juga dalam penyelesaian soal non ceritera.
4) Strategi problem solving mencakup teknik pengajuan pertanyaan, analisis situasi, translasi hasil, ilustrasi hasil, menggambar diagram dan penggunaan trial and error.
5) Siswa harus mencari penyelesaian alternatif untuk suatu soal, mereka harus terbiasa dengan lebih dari satu penyelesaian.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Model pembelajaran yang dapat diterapkan pada bidang studi hendaknya dikemas koheren dengan hakikat ndividua bidang studi tersebut. Namun, secara filosofis tujuan pembelajaran adalah untuk memfasilitasi siswa dalam penumbuhan dan pengembangan kesadaran belajar, sehingga mampu melakukan olah ndiv, rasa, dan raga dalam memecahkan masalah kehidupan di dunia nyata. Model-model pembelajaran yang dapat mengakomodasikan tujuan tersebut adalah yang berlandaskan pada paradigma konstruktivistik sebagai paradigma alternatif. Model pembelajaran problem solving merupakan salah satu model pembelajaran yang mencerminkan atau dilandasi oleh paradigma konstrukstivisme.
Pembelajaran MIPA membutuhkan problem solving dalam pelaksanaannya. Hal ini turut mengembangkan kemampuan peserta didik dan hasil belajar peserta didik.Problem solving adalah upaya ndividua tau kelompok untuk menemukan jawaban berdasarkan pengetahuan, pemahaman, keterampilan yang telah dimiliki sebelumnya dalam rangka menyelesaikan suatu masalah. Problem solving menekankan bahwa permasalahan sebagai stimulus dalam aktivitas belajar, dalam hal ini fokusnya adalah pengembangan ketrampilan pemecahan masalah dari kasus-kasus serupa. Ketrampilan tidak diajarkan oleh guru tetapi ditemukan dan dikembangkan sendiri oleh siswa melalui aktivitas pemecahan masalah.
Saran
Diharapkan guru mengenalkan dan melatihkan keterampilan proses dan keterampilam model problem solving sebelum atau selama pembelajaran agar siswa mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta dapat menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut.
Agar pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses berorientasi pembelajaran model problem solving dapat berjalan, sebaiknya guru membuat perencanaan mengajar materi pelajaran, dan menentukan semua konsep-konsep yang akan dikembangkan, dan untuk setiap konsep ditentukan metode atau pendekatan yang akan digunakan serta keterampilan proses yang akan dikembangkan.
DAFTAR PUSTAKA
https://sweetbt21.blogspot.com/2018/01/makalah-model-pembelajaran-problem.html?m=1
Pembelajaran konsep
A.PENDAHULUAN
Latar Belakang
Belajar konsep mengacu pada setiap kegiatan di mana pelajar harus belajar mengklasifikasikan dua atau lebih peristiwa yang agak berbeda atau benda ke dalam satu kategori. Pembelajaran konsep mencakup belajar untuk membuat tanggapan umum kepada sekelompok stimulus yang memiliki beberapa fitur atau sifat yang sama. Konsep mengacu pada serangkaian fitur atau atribut satu atau lebih sifat-sifat umum yang dihubungkan oleh sebuah aturan. Belajar konsep di sisi lain mencakup belajar respon tunggal untuk dua atau lebih rangsangan yang merupakan perbandingan antara stimulus dan respon. Belajar konsep mengharuskan pelajar datang untuk menanggapi fitur yang relevan dengan konsep dan mengabaikan fitur yang tidak relevan dalam mengklasifikasikan peristiwa.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang Makalah “Pembelajaran Konsep”di atas, maka penulis mengambil rumsan masalah sebagai berikut :
Apa itu belajar konsep?
Bagaimana memperoleh dan menentukan konsep?
Bagaimana tingkat- tingkat konsep?
Bagaimana Menentukan konsep yang Diajarakan?
Bagaimana Merencanakan Pelajaran?
Tujuan Penulisan
Berdasarkan uraian latar belakang dan rumusan masalah pada Makalah “Pembelajaran Konsep” tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut:
Untuk mengetahui apa itu belajar konsep
Untuk mengetahui bagaimana memperoleh dan menentukan konsep
Untuk mengetahui tingkat-tingkat konsep
Untuk mengetahui cara menentukan konsep yang diajarkan
Untuk mengetahui cara merencanakan pelajaran
PEMBAHASAN
Belajar konsep
Belajar konsep merupakan hasil utama pendidikan. Konsep-konsep merupakan batu-batu pembangun (building blocks) berfikir. Konsep-konsep merupakan dasar bagi proses-proses mental yang lebih tinggi untuk merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi- generalisasi. Untuk memecahkan masalah seorang siswa harus mengetahui aturan-aturan yang relevan, dan aturan-aturan ini didasarkan pada konsep-konsep yang diperolehnya.
Tidak ada satu pun definisi yang dapat mengungkapkan arti yang kaya dari konsep atau berbagai macam konsep-konsep yang diperoleh siswa. Oleh karena konsep-konsep itu merupakan penyajian-penyajian internal dari sekelompok stimulus-stimulus, konsep-konsep itu tidak dapat diamati; konsep-konsep harus disimpulkan dari perilaku, walaupun kita dapat memberikan suatu definisi verbal dari hubungan antara konsep itu dengan konsep-konsep yang lain.
Hal yang harus disadari saat ini adalah pentingnya belajar konsep tentang sesuatu. Konsep yang dimaksud disini tidak lain dari kategori-kategori yang kita berikan dari stimulus atau rangsangan yang ada di lingkungan kita. Konsep yang ada di dalam struktur kognitif individu merupakan hasil dari pengalaman yang ia peroleh. Jika keadaannya demikian, sebagian konsep yang dimiliki individu merupakan hasil dari proses belajar yang mana proses hasil dari proses belajar ini akan menjadi pondasi (building blocks) dalam struktur berpikir individu. Konsep-konsep inilah yang dijadikan dasar oleh seseorang dalam memecahkan masalah, mengetahui aturan-aturan yang relevan, dan hal-hal lain y ang ada keterkaitannya dengan apa yang harus dilakukan individu.
Definisi konsep menurut sebagian besar orang adalah sesuatu yang diterima dalam pikiran atau ide yang umum dan abstrak. Menurut salah satu ahli, konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili suatu kelas objek, kejadian, kegiatan, atau hubungan yang mempunyai atribut yang sama.
Macam-macam konsep yang kita pelajari tidak terbatas. Konsep panas sangat berbeda dari konsep relativitas dalam beberpa dimensi. Flavel (1970) menyarankan bahwa konsep-konsep dapat berbeda dalam tujuh dimensi, yaitu:
Atribut
Setiap konsep memiliki sejumlah atribut yang berbeda. Contoh-contoh konsep harus mempunyai atribut-atribut yang relevan; termasuk juga atribut-atribut yang tidak relevan, contohnya konsep meja.
Struktur
Struktur menyangkut cara terkaitnya atau tergabungnya atribut-atribut itu. Ada tiga macam struktur yang dikenal yaitu; konsep-konsep konjuktif adalah konsep-konsep dimana terdapat dua konsep contonya, wanita yang main dalam film dimana atributnya ialah wanita dan main dalam film. Konsep-konsep disjunktif adalah konsep-konsep dimana satu dari dua atau lebih sifat-sifat harus ada contohnya konsep seorang paman yang merupakan kakak dari ibu atau ayah. Konsep-konsep relasional menyatakan hubungan tertentu antara atribut-atribut konsep. Kelas social adalah suatu contoh dari konsep relasional. Kelas social ditentukan oleh hubungan antara pendapatan, pendidikan, jabatan atau pekerjaan, dan factor-faktor lainnya.
Keabstrakan
Konsep-konsep dapat dilihat dan konkrit, atau konsep-konsep itu terdiri dari konsep-konsep lain.
Keinklusifan
Konsep ini ditujukan pada jumlah contoh-contoh yang terlibat dalam konsep itu.
Generalitas atau keumuman
Bila diklasifikasikan, konsep-konsep dapat berbeda dalam posisi superordinat atau subordinat.
Ketepatan
Ketepatan suatu konsep menyangkut apakah ada sekumpulan aturan-aturan untuk membedakan contoh-contoh dari noncontoh-noncontoh suatu konsep.
Kekuatan (power)
Kekuatan suatu konsep ditentukan oleh sejauh mana orang setuju, bahwa konsep itu penting.
Menurut Rosser (1984), konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili satu kelas objek-objek , kejadian-kejadian, kegiatan-kegiatan, atau hubungan-hubungan, yang mempunyai atribut-atribut yang sama. Oleh karena orang mengalami stimulus-stimulus yang berbeda, orang membentuk konsep sesuai dengan pengelompokkan stimulus-stimulus dengan ccara tertentu. Secara singkat dapat kita katakan, bahwa suatu konsep merupakan suatu abstraksi mental yang mewakili suatu kelas stimulus-stimulus. Kita menyimpulkan, bahwa suatu konsep telah dipelajari, bila yang diajar dapat menampilkan perilaku-perilaku tertentu.
Perolehan Konsep-Konsep
Menurut Ausubel (1968), konsep-konsep diperoleh dengan dua cara yaitu formasi konsep (concept formation) dan asimilasi konsep (concept asimilasi). Formasi konsep terutama merupakan bentuk perolehan konsep-konsep sebelum anak-anak masuk sekolah. Sedangkan asimilasi konsep merupakan cara utama untuk memperoleh konsep-konsep selama dan sesudah sekolah.
Pendekatan pembelajaran perolehan konsep adalah suatu pendekatan pembelajaran yang bertujuan untuk membantu siswa memahami suatu konsep tertentu.
Pendekatan pembelajaran ini dapat diterapkan untuk semua umur, dari anak-anak sampai orang dewasa. Untuk taman kanak-kanak, tentunya, pendekatan ini dapat digunakan untuk memperkenalkan konsep yang sederhana. Misalnya konsep binatang, tumbuhan, dan lain-lain. Pendekatan ini, lebih tepat digunakan ketika penekanan pembelajaran lebih dititikberatkan pada mengenalkan konsep baru, melatih kemampuan berpikir induktif dan melatih berpikir analisis.
Suatu konsep diperoleh melalui tiga tahap yaitu:
Pertama adalah tahap kategorisasi, yaitu upaya mengkategorikan sesuatu yang sama atau tidak sesuai dengan konsep yang diperoleh.
Masuk ketahap selanjutnya, setelah kategori yang tidak sesuai disingkirkan, dan kategori- kategori yang sesuai digabungkan sehingga membentuk suatu konsep (concept formation). Setelah itu, suatu konsep tertentu baru dapat disimpulkan.
Tahap terakhir inilah yang dimaksud dengan perolehan konsep. Melalui model ini, perolehan konsep didasarkan pada kondisi reseptif siswa dan sifatnya lebih langsung.
Pembentukan Konsep
Pembentukan konsep merupakan proses induktif. Bila anak dihadapkan pada stimulus-stimulus, lingkungan, ia mengabstraksi sifat-sifat tertentu atau atribut-atribut tertentu yang sama dari berbagai stimulus-stimulus. Pembentukan konsep merupakan suatu bentuk belajar penemuan (discovery learning), paling sedikit dalam bentuk primitive yang melibatkan proses-proses psikologi seperti analisis diskriminatif, abstraksi, diferensiasi, pembentukan (generation) hipotesis dan pengujian (testing), dan generalisasi. Pembentukan konsep ini juga ditujukan oleh orang-orang yang lebih tua dalam situasi-situasi kehidupan nyata dan dalam laboratorium, tetapi dengan tingkat sofistifikasi yang lebih tinggi.
Asimilasi Konsep
Asimilasi konsep merupakan proses deduktif, dimana anak-anak diharapkan belajar banyak konsep melalui proses asimilasi konsep. Untuk memperoleh konsep-konsep melalui proses asimilasi, orang yang belajar harus sudah memperoleh definsi formal dari suatu kata menunjukkan kesamaan-kesamaan (commonalities) dengan konsep tertentu dan membedakan kata itu dari konsep-konsep lain.
Walupun kedua bentuk belajar konsep ini efektif, pembentukan konsep lebih memakan waktu daripada asimilasi konsep. Dengan mempertimbangkan, bahwa begitu banyak konsep yang harus dipelajari siswa selama sekolah, penggunaan berlebihan dari metoda penemuan hendaknya dibatasi.
Tingkat-tingkat pencapaian konsep
Pengembangan konsep-konsep melalui satu seri tingkatan. Kita mencapai konsep- konsep pada tingkat-tingkat yang berbeda. Konsep-konsep yang berbeda dipelajari pada usia- usia yang berbeda. Klausmeier (1977) menghipotesiskan ada empat tingkat pencapaian konsep, yaitu :
Tingkat konkret
Tingkat konkret ditandai dengan adanya pengenalan anak terhadap suatu benda yang pernah ia kenal. Contohnya pada suatu saat anak bermain kelereng dan pada waktu yang lain dengan tempat yang berbeda ia menemukan lagi kelereng, lalu ia bisa mengidentifikasi bahwa itu adalah kelereng maka anak tersebut sudah mencapai tingkat konkret.
Tingkat identitas
Pada tingkat identitas seseorang dapat dikatakan telah mencapai tingkat konsep identitas apabila ia mengenal suatu objek setelah selang waktu tertentu, memiliki orientasi ruang yang berbeda terhadap objek itu, atau bila objek itu ditentukan melalui suatu cara indra yang berbeda. Misalnya mengenal kelereng dengan cara memainkannya, bukan hanya dengan melihatnya lagi.
c. Tingkat klasifikatori
Tingkat klasifikatori dapat digambarkan anak sudah mampu mengenal persamaan dari contoh yang berbeda tetapi dari kelas yang sama. Misalnya anak mampu membedakan antara apel yang masak dengan apel yang mentah.
d. Tingkat formal
Pada tingkatan formal anak sudah mampu membatasi suatu konsep dengan konsep lain, membedakannya, menentukan ciri-ciri, memberi nama atribut yang membatasinya, bahkan sampai mengevaluasi atau memberikan contoh secara verbal.
Menentukan Konsep-konsep yang diajarkan
Dalam menentukan konsep yang akan diajarkan, ada beberapa sumber yang perlu kita ketahui, yaitu:
a. Penulis-penulis buku pelajaran (buku teks)
b. Pengembangan-pengembangan kurikulum
c. Pengalaman guru itu sendiri
d. Anak-anak atau siswa itu sendiri
Penuntun-penuntun kurikulum dan buku-buku teks menyediakan suatu kerangka atau konsep-konsep yang akan diajarkan dan perilaku siswa akan menentukan konsep-konsep lain. Pengetahuan guru tentang perkembangan kognitif dan perkembangan bahasa itu sendiri akan menyediakan informasi tambahan, bukan hanya untuk menentukan konsep-konsep yang diajarkan, melainkan juga untuk menentukan tingkat-tingkat yang dapat kita harapkan dicapai oleh para siswa.
Merencanakan Pelajaran
Proses belajar mengajar perlu direncanakan agar dalam pelaksanaannya pembelajaran berlangsung dengan baik dan dapat mencapai hasil yang diharapkan. Dalam merencanakan, guru harus memutuskan tingkat pencapaian konsep yang mana yang dapat diharapkan dari para siswa. Analisis konsep dapat menolong guru dalam hal ini, dan memilih materi pelajaran yang akan diberikan.
Menentukan tingkat pencapaian konsep
Tingkat pencapaian konsep yang diharapkan dari siswa, tergantung pada kompleksitas dari konsep dan tingkat perkembangan kognitif dari siswa. Tingkat pencapaian formal dapat diharapkan bila pengajaran yang tepat diberikan pada siswa-siswa pada periode operasional formal. Tingkat-tingkat pencapaian konsp yang diharapkan tercermin dari tujuan- tujuan pengajaran yang dirumuskan bagi para siswa.
Analisis konsep
Analisis konsep merupakan suatu prosedur yang dikembangkan untuk menolong guru dalam merencanakan urutan-urutan pengajaran bagi pencapaian konsep. Untuk melakukan analisis konsep, guru hendaknya memperhatikan hal-hal berikut :
Nama konsep
Orang dapat membentuk konsep-konsep tanpa memberi nama pada konsep itu, terutama pada tingkat konkret dan tingkat identitas. Tetapi, setelah mereka masuk sekolah mereka diberi pelajaran tentang nama-nama konsep yang telah diterima secara luas.
Atribut-atribut kriteria dan variabel konsep
Atribut-atribut criteria suatu konsep adalah ciri-ciri konsep yang perlu untuk membedakan contoh-contoh dan noncontoh-noncontoh, dan untuk menentukan apakah suatu objek baru merupakan suatu contoh dari konsep. Atribit-atribut variabel konsep ialah ciri-ciri yang mungkin berbeda di antara contoh-contoh tanpa mempengaruhi inklusi dalam kategori konsep itu.
Definisi konsep
Pada tingkat formal, siswa dapat belajar konsep melalui definisi yang diberikan. Kemampuan untuk menyatakan suatu definisi dari suatu konsep dapat digunakan sebagai suatu criteria bahwa siswa telah belajar konsep itu.
Contoh-contoh dan noncontoh-noncontoh
Dengan membuat daftar dari atribut-atribut dari suatu konsep, pengembangan konsep- konsep dan nonkonsep-nonkonsep dapat diperlancar.
Hubungan konsep pada konsep-konsep lain : superordinat, koordinat, dan subordinat.
Untuk sebagian besar konsep-konsep, kita dapat mengembangkan suatu hiarki dari konsep-konsep yang berhubungan yang memperlihatkan bagaimana suatu konsep terkait pada konsep-konsep lain.
PENUTUP
Kesimpulan
Pembentukan konsep-konsep mengizinkan kita untuk mengatur dan menyederhanakan lingkungan kita. Konsep-konsep merupakan dasar-dasar unuk berpikir, untuk belajar aturan- aturan, dana akhirnya untuk menyederhanakan masalah-masalah. Tanpa kosep-konsep tak mungkun kita mengajar.
Pendekatan belajar konsep menurut teoriwan-teoriwan perilaku dan teoriwan-teoriwan kogntif berbeda. Pendekatan perilaku menekankan prosedu-prosedur kondisi, sedangkan pendekatan kognitif menghubungkan belajar konsep pada struktur kognitif.
Guru hendaknya menentukan konsep-konsep yang akan diajarkannya pada para siswa, tingkat-tingkat pencapaian konsep yang diterapkan dari para siswa. Analisis konsep dapat digunakan untuk merencenakan pembelajaran, dan untuk menentukan apakah para siswa telah mencapai konsep-konsep pada tingkat yang sesuai.
DAFTAR PUSTAKA
Arsianah, Rinda. 2008. Konsep Belajar dalam Dunia Pendidikan. http://pkab.wordpress.com.
Fataruba, Hayatuddin. 2010. Pengertian Teori dan Konsep Belajar.
http://massofa.wordpress.com. Diakses pada tanggal 18 september 2011.
http://taliabupomai.blogspot.com
Suciptoardi. 2011. Perencanaan pembelajaran sejarah. http://www. Viva Historia, Jas Merah.com. Diakses pada tanggal 19 september 2011.
Syamrilaode.2010.Tingkat-tingkatPencapaianKonsep. http://www.shvoong.com . Diakses pada tanggal 19 september 2011.
Wilis, Dahar Ratna, 1988.Teori-Teori Belajar.Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Pembelajaran verbal
A. Pendahuluan
Manusia tidak terlepas dari berbicara.ketika lahirpun manusia telah menggunakan bahasa verbal yaitu berupa tangisan. Dalam belajarpun manusia berinteraksi dengan bahasa verbal.pembelajaran verbal digunakan untuk memahami sebuah kata asing salah satunya.Hal yang mendasari untuk menyampaikan materi kepada peserta didik semestinya memerlukan bahasa yang jelas,padat dan singkat .Mimik wajah,intonasi,senyum ataupun tertawa dan itu merupakan bagian dari bahasa verbal adapun komunikasinya seperti lisan dan bahasa tubuh.pemilihan bahasa dalam pembelajaraan adalah kunci berhasilnya pembelajaraan tersebut.cerminan jiwa seseorang akan terlihat dari sejauh mana bahasa seseorang,sebab kejerniaan pikiran seseorang dapaat dilihat dari lisan dan bahasa tubuh.oleh karena itu bahasa verbal merupakaan bangunan dasar seseorang untuk berinteraksi di mayarakaat.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu ruang lingkup pembelajaran verbal
2. Apa prousedur dan bahan pembelajaran verbal
3. apa itu assosianisme dan pembelajaran verbal
4. apa saja tahapan analisa dan pembelajaran verbal
C. Pembahasan
Ruang lingkup pembelajaran verbal
Pembelajaran verbal merupakan kegiatan pembelajaran yang mendorong siswa untuk memberikan respon terhadap materi verbal seperti kata dan tanggapan yang bersifat verbal,ruang lingkup pembelajaran verbal terdiri dari materi dan prousedur yang terurai dalam konteks-konteks pengembangan.pembelajaran verbal merupakan proses yang kompleks yang terdiri dari pemecahan masalah.
Prosedur dan bahan pembelajaran verbal
Ada 4 proses pembelajaran verbal :
Serial learning (pembelajaran berseri). Dalam pembelajaran seri,unit-unit verbal dari kata-kata yang tersusun dan sifat coba-coba. Misalnya,urutan nama-nama hari dalam satu minggu dan urutan nama-nama bulan dalam satu tahun.
Paired associate learning (belajar asosiasi berpasangan). Tugas dari pelajar adalah memepelajari pasang item,satu dari anggota pasangan tersebut merupakan stimulus dan yang lainnya merupakan respon.
Free recall (mengingat bebas). Di dalam prosedur pembelajaran free recall yang biasa juga disebut dengan free lecall learning, subyek disajikan serangkain item verbal 1 pada suatu saat dan diminta untuk mengingat kembali tersebut tanpa memperhatikan susunannya.susunan unik item pada saat disajikan bervariasi dan si pelajar bebas dan mengingat kembali unit-unit tersebut sesuai dengan keinginan.
Recognition learning (pembelajaran pengenalan). Dalan prousedur pembelajaran recognation learning (pembelajaran rekognisi) si pelajar di perlihatkan didalam fase belajar dan kemudian diuji untuk mengingat dalam urutan latihan tertentu.pada dasarnya jeni belajar ini sama dengan free recall learning pada tahap belajar,ia berbeda pada tahap pemberian ujian.
Assosianisme dan pembelajaran verbal
Kajian pendekatan klasikal dalam belajar verbal berasal dari teori asosiasi.prinsip-prinsip yang menekankan pada asosiasi dan frekuensi pengalaman adalah penting dalm pendekatan asosiasi.metode pembelajaran asosiasi,baik secara serial maupun berpasangan,merupakan metode yang sangat dominan bagi para ahli teori asosiasi.tujuan utamanya adalah menentukan variabel-variabel yang mempengaruhi pembelajaran verbal.variabel-variabel yang dianggap penting adalah variabel-variabel tugas seperti kembermaknaan item,vamiliaritas item,frekuensi pengalaman item dan kemiripan diantara item.
Kebermaknaan dan pembelajarn verbal. Kebermaknaan adalah dengan mengukur jumlah asosiasi yang diberikan terhadap sebua kata atau terhadap unit verbalnya.jadi kebermaknaan bisa dikatakan sebagai asosiasi yang ditunjukan oleh sebuah unit verbal.
Kesamaan dan pembelajaran verbal. Kesaamaan adalah faktor lain yang berpengaruh terhadap upaya pemahaman verbal.kesamaan formal dan bahan-bahan verbal ditentukan oleh jumlah huruf yang digunakan dalam bentuk sebuah kelompok item. Ada beberapa jenis kesamaan yaitu (1) kesaaam formal adalah jumlah kebiasaan atau tumpang tindihnya huruf yang digunakan dalam menyusun daftar item; (2) kesamaan makna berkaitan dengan sinonim dan (3) kesamaan konseptual berkaitan dengan kesamaan konsep dari serangkaian kata.
4. Tahapan analisa dan pembelajaran verbal
Respon dan pembelajaran asosiasi. Langkah-langkah untuk memahami hubungan asosiassi ini ada dua macam : Pertama,kita harus mengenal respon terhadap yang ingin kita pahami,kemudia kita harus mengaitkan respon tersebut denagn stimulus.pada tahap pertama ini gimana respon menjadi terpadu sehingga dia dikenali,ini disebut tahapan pembelajaran respon.pada tahap kedua adanya pengaitan respon tertentu terhadap stimulus tertentu,ini disebut dengan tahap asisiatif.
Diskriminasi stimulus. Diskriminasi stimulus adalah sebuah proses dasar dalam upaya pemahaman asosiasi.pembelajaran harus membedakan benttuk-bentuk stimulus apabila ingin menghubungkan stimulus terstentu dengan respon tertentu.semakin tinggi tingkat stimulus semakin penting proses yang akan dilakukan.
Seleksi stimulus. Pada seleksi stimulus hanya digunakan satu bagian stimulus experimenter yang diambil sebagi perwakilan dari stimulus secara keseluruhan.stimulus experimenter adalah stimulus nomial sedangkan yang digunakan sebjek untuk menilai respon adalah stimulus fungsional.
Pengkodean stimulus. Pengkodean stimulus adalah proses perubahan atau pentranspormasian stimulus nominal kedalam bentuk baru atau representasi baru.pengkodean terbagi atas pengkdoean subtitusi dan pengkodean eleborasi.pengkodean subtitusi adalah penggantian input stimulus dengan representasi baru, sedangkan pengkodean elaborasi adalah pengkodean yang membutuhkan informasi tambahan yamg berasal dari memori.
Bagaimana asosiasi dibentuk Asosiasi dibentuk secara bertahap.presentasi berulang penting keberadaannya untuk menciptakan formasi asisasi.dengan pola ini formasi asosiasi merupakan proses berharap dan kontinyu yang memerlukan perulangan dan ada juga penilaian yang mengatakan bahwa asosiasi terbentuk berdasarkan dasis all-or-none ( semua atau tidak sama sekali,tidak bisa satu-satu).
D. Penutupan
Pembelajaran verbal merupakan kegiatan pembelajran yang mendorong siswa untuk memberikan respon terhadap materi verbal seperti sebuah kata dan tanggapan-tanggapam yang bersifat verbal.pada prinsipnya pembelajaran verbal tertususn secara sistematik,memiliki hubungan kedekatan dengan cara mengingat sesuatu dan dihubungkan dengan yang lain.prinsip dalam pembelajaran verbal menganut pemahaman teori asosiasi, prinsip dalam pendekatan asosiasi bahwa frekuensi pengalaman merupakan bagian penting dalam pendekatan ini.
E. Daftar Pustaka
Henry. C.Ellis, Fundamentals of Human Learning, Memory and Cognition, Universitas of New Mexico, 1978 Shaleh, Abdurrahman dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi suatu pengantar dalam perspektif Islam, Jakarta: Kencana, 2004 Syah, Muhibbin, Psikologi Belajar, Jakarta: Logos, 1999.
Motivasi belajar
A. Pendahuluan
Kehidupan manusia dipengaruhi oleh motivasi yang erat kaitannya dengan harapan dan kemauan belajar motivasi itu tumbuh dalam diri seseorang dapat mencapai tujuan belajar. Dalam belajar, motivasi itu tumbuh dalam diri seseorang dan dapat dirangsang dari luar. Motivasi belajar bukanlah sesuatu yang siap jadi, tetapi diperoleh dan dibentuk oleh lingkungan. Nana Syaodih Sukmadinata (2005: 61) menjelasakan motivasi adalah kekuatan yang menjadi pendorong kegiatan individu, kondisi dalam diri individu yang mendorong atau menggerakan dalam individu untuk melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan.
Seperti halnya motivasi belajar, dorongan yang ada dalam diri siswa untuk mencapai hasil belajar yang maksimal. Siswa akan melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan hasil yang memuaskan apabila mempunyai motivasi yang tinggi. Hal ini sependapat dengan Sumadi Suryabrata (2002: 70) yang menjelaskan motivasi adalah keadaan dalam pribadi orang yang mendorong untuk orang untuk melakukan aktivitas tertentu untuk mencapai tujuan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu pengertian motivasi belajar
2. Apa fungsi motivasi belajar
3. Apa ciri-ciri motivasi belajar
C. Pembahasan
Pengertian Motivasi Belajar
Kehidupan manusia dipengaruhi oleh motivasi yang erat kaitannya dengan harapan dan kemauan belajar motivasi itu tumbuh dalam diri seseorang dapat mencapai tujuan belajar. Dalam belajar, motivasi itu tumbuh dalam diri seseorang dan dapat dirangsang dari luar. Motivasi belajar bukanlah sesuatu yang siap jadi, tetapi diperoleh dan dibentuk oleh lingkungan.
Motivasi belajar dibentuk dan salah satu landasan yang mendorong manusia untuk tumbuh, berkembang, dan maju mencapai sesuatu. Motivasi belajar dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang dapat timbul pada proses belajar dan menjamin kelangsungan dalam pembelajarannya. Sependapat dengan Ngalim Purwanto (2002: 71) yang mengatakan bahwa motivasi adalah sesuatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil dan tujuan tertentu. Sardiman (2007: 75) menjelaskan motivasi belajar adalah merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual dan peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Motivasi merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa, karena siswa akan belajar dengan sungguh-sungguh apabila memiliki motivasi yang tinggi. Motivasi menunjukkan kepada faktor-faktor yang memperkuat perilaku. Faktor-faktor tersebut berasal dari dalam (intrinsik) dan dari luar (ekstrinsik) diri seseorang. Dari proses terjadinya, motivasi yang timbul pada diri seseorang dapat dilihat dari dua macam motivasi belajar yaitu motivasi Intrinsik dan motivasi Ekstrinsik
Motivasi belajar dibentuk dan salah satu landasan yang mendorong manusia untuk tumbuh, berkembang, dan maju mencapai sesuatu. Motivasi belajar dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang dapat timbul pada proses belajar dan menjamin kelangsungan dalam pembelajarannya. Sependapat dengan Ngalim Purwanto (2002: 71) yang mengatakan bahwa motivasi adalah sesuatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil dan tujuan tertentu. Sardiman (2007: 75) menjelaskan motivasi belajar adalah merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual dan peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar.
Motivasi merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa, karena siswa akan belajar dengan sungguh-sungguh apabila memiliki motivasi yang tinggi. Motivasi menunjukkan kepada faktor-faktor yang memperkuat perilaku. Faktor-faktor tersebut berasal dari dalam (intrinsik) dan dari luar (ekstrinsik) diri seseorang. Dari proses terjadinya, motivasi yang timbul pada diri seseorang dapat dilihat dari dua macam motivasi belajar yaitu motivasi Intrinsik dan motivasi Ekstrinsik
Fungsi Motivasi Belajar
Motivasi akan menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa. Tinggi rendahnya motivasi belajar yang dimiliki siswa akan ditunjukan pada hasil belajar. Hasil belajar yang optimal apabila ada motivasi yang tinggi dalam belajar. Semakin tepat motivasi yang dimiliki semakin berhasil pula peserta didik tersebut dalam meraih hasil belajar yang diinginkan. Sependapat dengan Nana Syaodih Sukmadinata (2005: 163) yang mengatakan bahwa, “ Belajar perlu didukung oleh motivasi yang kuat dan konstan. Motivasi yang lemah serta tidak konstan akan menyababkan kurangnya usaha belajar yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap hasil belajar”. Ngalim Purwanto (2002: 70) mengemukakan ada tiga fungsi motivasi, yaitu: 1) mendorong siswa untuk berbuat; 2) menentukan arah perbuatan; 3) menyeleksi perbuatan. Siswa mempunyai energi belajar yang tinggi dalam meraih keberhasilan dalam belajarnya. Siswa dapat menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi mencapi tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Fungsi motivasi belajar dapat diartikan sebagai kekuatan atau daya gerak dalam diri siswa yang menggerakan atau menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kegiatan belajar tetap berjalan dan mendengarkan kegiatan pada tujuan yang ingin dicapai.
Ngalim Purwanto (2002: 71) berpendapat mengenai motivasi seseorang dinyatakan dengan berbagai kata, seperti: hasrat, kehendak, maksud, minat, tekad, kemauan, dorongan, kebutuhan, kehendak, cita-cita, dan kehausan. Jadi fungsi motivasi dalam belajar dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang dapat timbul pada proses belajar dan menjamin kelangsungan dalam pembelajarannya. Maka motivasi yang dimaksud dalam penelitian ini akan diukur melalui beberapa indikator. Adapun beberapa indikator tersebut adalah adanya hasrat dan keinginan berhasil, adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, adanya harapan dan cita-cita masa depan, adanya penghargaan dalam belajar, adannya kegiatan yang menarik dalam belajar, adanya lingkungan belajar yang kondusif
Ciri-ciri Motivasi Belajar
Untuk mengetahui dan melengkapi mengenai makna motivasi, perlu dikemukakan adanya beberapa ciri motivasi. Menurut Sardiman (2003: 83) motivasi yang ada pada diri peserta didik memiliki ciri-ciri, yaitu tekun mengadapi tugas, ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa), memajukan minat terhadap bermacam-macam masalah untuk orang dewasa, lebih senang bekerja mandiri, cepat bosan pada tugas-tugas rutin (hal-hal bersifat mekanis, berulang-ulang begitu saja sehingga kurang kreatif), dapat mempertahankan pendapatnya, tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu, senang mencari dan memecahkan masalah sosial. Siswa yang mempunyai hasrat yang tinggi untuk belajar untuk mengadakanperubahan tingkah laku mempunyai peranan yang besar dalam keberhasilan dalam belajar. Djaali (2007: 109) mengemukakkan siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) menyukai situasi atau tugas yang menuntut tanggung jawab pribadi atas hasil-hasilnya; 2) memilih tujuan yang realitas tetapi menantang dari tujuan yang terlalu mudah dicapai atau terlalu besar resikonya; 3) mencari situasi dimana ia memperoleh umpan balik dengan segera; 4) senang bekerja sendiri dan bersaing untuk mengingguli orang lain; 5) tidak tergugah untuk sekedar mendapatkan imbalan melainkan mencari lambang prestasi, suatu ukuran keberhasialan. Siswa yang mempunyai karakteristik seperti diatas, maka sudah mempunyai potensi untuk memperoleh hasil belajar yang diinginkan. Ciri-ciri motivasi di atas dapat mengetahui atau dijadikan indikator siswa yang mempunyai motivasi belajar yang tinggi.
D. Penutupan
Motivasi adalah kekuatan yang menjadi pendorong kegiatan individu, kondisi dalam diri individu yang mendorong atau menggerakan dalam individu untuk melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan. Seperti halnya motivasi belajar, dorongan yang ada dalam diri siswa untuk mencapai hasil belajar yang maksimal. Siswa akan melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan hasil yang memuaskan apabila mempunyai motivasi yang tinggi..
E. Daftar Pustaka
Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Asdi Mahasatya.
Aritonang, Keke T. 2008. “Minat dan Motivasi dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa”. Jurnal Pendidikan Penabur, 7(10): 11-21.
Baharuddin. 2007. Psikologi Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Budiyono. 2009. Statistika Dasar untuk Penelitian. Surakarta: FKIP UNS Press.
Implikasi teori belajar dalam pendidikan
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Aplikasi teori belajar merupakan suatu bagian terpenting dari teknologi pendidikan yang yang memiliki potensi cukup besar dalam pengoptimalisasikan peningkatan pendidikan dengan memanfaatkan faktor-faktor yang tersedia yaitu sarana dan prasarana. dengan memfungsikan hubungan antara keterkaitan antar sistem berbagai sarana maupun prasarana yang tersedia menjadi suatu kesatuan dalam sistem pendidikan akan menghasilkan suatu sistem pendidikan yang dapat mengefisiensikan pengembangan pendidikan.
Adapun implikasi teater belajar dalam pembelajaran di kelas ataupun atau dalam dunia pendidikan.adapun teori belajar yang secara umum dapat dikelompokkan dalam 4 kelompok atau aliran meliputi:
teori belajar behavioristic
teori belajar kognitif
teori belajar humanistic
teori belajar sibernetik
Keempat aliran teori belajar tersebut memiliki karakteristik yang berbeda yakni aliran behavioristik menekankan pada “hasil” daripada proses belajar. Aliran kognitif menekankan pada” proses” belajar. Aliran humanistik menekankan pada” isi” atau apa yang dipelajari. Aliran sibernetik menekankan pada” sistem informasi” yang dipelajari.
Implikasi teori belajar dalam pendidikan merupakan suatu usaha yang harus dilakukan khususnya yang didasarkan atas pengembangan pendidikan dengan bertitik tolak untuk perbaikan pendidikan, sangat besar perannya untuk peningkatan pendidikan, baik dilihat dari segi pendidikan secara umum maupun dalam perspektif Islam.
Rumusan Masalah
Apa pengertian dari teori belajar dalam pendidikan?
Bagaimana implementasi teori-teori belajar dalam perspektif islam?
Apa saja teori belajar ?
Tujuan
Mengetahui pengertian dari teori belajar dalam pendidikan
Mengetahui implementasi teori-teori belajar dalam perspektif islam
Mengetahui teori belajar
BAB II
PEMBAHASAN
Implikasi Teori Belajar Dalam Pendidikan
Implikasi teori belajar dalam pendidikan merupakan suatu bagian terpenting dari teknologi pendidikan yang memiliki potensi cukup besar dalam mengoptimalisasikan peningkatan pendidikan dengan memanfaatkan faktor-faktor tersebut yaitu sarana dan prasarana. Adapun implikasi teori belajar dalam pendidikan ada 4 yaitu:
Implikasi teori behavioristic
Implikasi teori belajar behavioristik dalam pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti tujuan pembelajaran, sifat materi pembelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang di rancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah.
Pembelajaran yang di rancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) Ke orang hang belajar atau pebelajar. Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar untuk berkreasi, bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri.
Akibatnya pebelajar kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka. Karena teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan telah terstruktur rapi dan teratur, maka pebelajar atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dulu secara ketat.
Implikasi teori kognitif
Implikasi teori belajar kognitif dalam pembelajaran, guru harus memahami bahwa siswa bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses berpikirnya anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar belajar menggunakan benda-benda konkret, keaktifan siswa sangat dipentingkan, guru menyusun materi dengan menggunakan pola atau logika tertentu dari sederhana ke kompleks, guru menciptakan pembelajaran yang bermakna, memperhatikan perbedaan individual siswa untuk mencapai keberhasilan siswa.
Implikasi teori humanistic
Implikasi teori humanistik dalam pembelajaran, guru lebih mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar.
Implikasi teori Sibernetik
Implikasi teori Sibernetik terhadap proses pembelajaran hendaknya menarik perhatian, memberitahukan tujuan pembelajaran kepada siswa, merangsang kegiatan pada prasyarat belajar, menyajikan bahan perangsang, memberikan bimbingan belajar, mendorong untuk kerja, dan menilai unjuk kerja.
Implementasi Teori-teori Belajar dalam Perspektif Islam
Berkenaan dengan teori belajar pendidikan agama Islam dalam membahas tentang teori pendidikan dalam Alqur’an, Abdurrahman Saleh Abdullah (1994:23) Menyatakan bahwa secara nyata, alqur,an merupakan sebuah kitab yang banyak menunjukkan verifikasi-verifikasi ilmiah. Alqur,an surah Al-Baqarah [2]:3 menyatakan bahwa beriman kepada yang gaib merupakan bagian dari iman yang mendahului petunjuk tingkah laku yang dapat diamati secara nyata.
Selanjutnya Abdurrahman (1994:24) Menyatakan bahwa karena asas-asas dasarnya dipadukan antara satu dengan yang lain, maka teori pendidikan islam (termaksud teori belajar pendidikan agama Islam) dapat dinyatakan sebagai teori terpadu dan menyeluruh dimana asas- asas dasar alqur,an membentuk inti prima.Sejauh alqur,an mengandung satu kesatuan pandangan terhadap manusia dan alam semesta, maka teori pendidikan Islam harus terletak pada dasar satu kesatuan tersebut.
Teori Belajar
Belajar merupakan ciri khas manusia yang membedakannya dengan binatang. Belajar yang dilakukan manusia merupakan bagian hidupnya dan berlangsung seumur hidup. Dalam belajar, pebelajar yang lebih penting sebab tanpa pebelajar tidak ada proses belajar. Oleh karena itu tenaga pengajar perlu memahami terlebih dahulu teori belajar, karena membantu pengajar untuk memahami proses belajar yang terjadi di dalam diri pebelajar, dengan kondisi ini pengajar dapat mengerti kondisi-kondisi dan faktor-faktor yang mempengaruhi, memperlancar atau menghambat proses belajar.
Teori ini merupakan sumber hipotesis atau dugaan-dugaan tentang proses belajar yang dapat di uji kebenarannya melalui eksperimen atau penelitian, dengan demikian dapat meningkatkan pengertian seseorang tentang proses belajar mengajar.
Secara umum semua teori belajar dapat kita kelompokkan menjadi 4 golongan atau aliran yaitu:
Teori belajar Behavioristik
Teori belajar Kognitif
Teori belajar Humanistik
Teori belajar Sibernetik
Aliran Teori Behavioristik
Pandangan tentang belajar menurut aliran tingkah laku, tidak lain adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respons atau dengan kata lain, belajar adalah perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus (yang mungkin berupa pikiran, perasaan atau gerakan) dan respons (yang juga berupa pikiran, perasaan atau gerakan ).
Aliran Teori Kognitif
Teori belajar kognitif merupakan suatu teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajar itu sendiri. Bagi penganut aliran ini, belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respons. Namun lebih dari itu, belajar melibatkan proses yang sangat kompleks. Menurut teori ini, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seorang individu melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak berjalan terpatah-patah, terpisah-pisah, tetapi melalui proses yang mengalir, bersambung-sambung, menyeluruh.
Aliran Teori Humanistik
Bagi penganut teori ini, proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri. Meskipun teori ini sangat menekan kan pentingnya “isi” dari proses belajar, dalam kenyataannya teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apa adanya, seperti apa yang biasa kita amati dalam dunia keseharian.
Aliran Teori Sibernetik
Teori ini masih baru jika dibandingkan dengan ketiga teori yang telah dijelaskan sebelumnya. Teori ini berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu informasi. Menurut teori ini belajar adalah pengolahan informasi. Teori ini berasumsi bahwa tidak ada satupun jenis cara belajar yang ideal untuk segala sesuatu, sebab cara belajara sangat ditentukan oleh system informasi.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Teori behavioristik menekankan pada “hasil” dari pada proses belajar. Teori kognitif menekankan pada “proses” belajar. Teori humanistik menekankan pada “isi” atau apa yang dipelajari. Teori sibernetik menekankan pada “sistem informasi” yang dipelajari.
Saran
Sebagai seorang pengajar perlu sekali mengetahui teori-teori belajar agar pendidikan di Indonesia menjadi semakin lebih baik dimasa sekarang dan yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Uno, Hamzah. B. 2006. Orientasi Baru dalam Psikologi pembelajaran.
Jakarta: PT Bumi Aksara.
Tohirin. 2011. Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Teori belajar humanistik
PEMBAHASAN
Pengertian Teori Humanistik
Teori pendidikan adalah suatu pandangan pendidikan yang diidealkan yang disajikan dalam bentuk sebuah sistem konsep dan dalil. Ada juga yang mengatakan teori pendidikan adalah serangkaian konsep, definisi, asumsi dan proposisi tentang cara merubah sikap dan tingkah laku seseorang dalam rangka mewujudkan manusia yang adil dan beradab.
Teori Humanistik lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia. Psikolog humanistik mencoba untuk melihat kehidupan manusia sebagaimana manusia melihat kehidupan mereka. Mereka berfokus pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional untuk dalam mengendalikan hasrat biologisnya, serta dalam meraih potensi maksimal mereka. Dalam pandangan humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.
Menurut para tokoh aliran ini penyusunan dan pemilihan materi pelajaran harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa. Tujuan utama pendidik adalah membantu siswa mengembangkan dirinya, yaitu membantu individu untuk mengenal dirinya sendiri sebagai manusia secara utuh dan membantu mengembangkan potensi dan keterampilan mereka.
Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada proses belajar yaitu proses memperoleh informasi baru dan internalisasi informasi ini pada individu. Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Pengertian humanistik yang beragam membuat batasan-batasan aplikasinya dalam dunia pendidikan mengundang berbagai macam arti pula.
Akar Gerakan Humanistik
Teori belajar dan pendidikan humanistik diawali oleh munculnya gerakan mahapeserta didik Gerakan yang disampaikan itu merupakan resppon atas ketidakpuasan atas kompetisi, tekanan, kehidupan yang selalu diawasi, dan ketidaksesuaian apa yang pelajari dengan apa yang mereka amati ketika belajar di sekolah. Gerakan itu dipelopori oleh Neill, John Holt, Jonathan Kozol, dan Paul Goodman.
Dalam pendidikan humanistik, fokus utamanya adalah hasil pendidikan yang bersifat afektif, belajar tentang cara-cara belajar (learning how to learn), dan meningkatkan kreativitas dan semua potensi peserta didik. Praktik pendidikan humanistik berkembang di Amerika Serikat 60an dan mencapai puncaknya pada tahun 1990an dengan munculnya tokoh-tokoh psikologi seperti Abraham Maslow dan Carls Rogers.
Hasil belajar dalam pandangan humanistik adalah kemampuan peserta didik mengambil tanggung jawab dalam menentukan apa yang dipelajari dan menjadi individu yang mampu mengarahkan diri sendiri (self directing) dan mandiri (independent). Di samping itu pendekatan humanistik memandang pentingnya penekanan pendidikan di bidang kreativitas, minat terhadap seni, dan hasrat ingin tahu. Oleh karena itu pendekatan humanistik kurang menekankan pada kurikulum standar, perencanaan pembelajaran, ujian, sertifikasi pendidik, dan kewajiban hadir di sekolah.
Dalam praktik pembelajaran, pendekatan humanistik mengkombinasikan metode pembelajaran indivdual dan kelompok kecil. Namun pendekatan humanistik mempersyaratkkan perubahan status pendidik dari individu yang lebih mengatahui dan terampil segala sesuatu menjadi individu yang memiliki status kesetaraan dengan peserta didik. Pilihan materi pembelajaran yang hendak digunakan dalam proses pembelajaran merupakan hak peserta didik bukan pendidik. Pembelajaran merupakan wahana bagi peserta didik untuk melakukan aktualisasi diri, sehingga pendidik harus membangun kecenderungan tersebut dan mengorganisir kelas agar peserta didik melakukan kontak dengan peristiwa-peristiwa yang bermakna.
Pendekatan humanistik selalu memelihara kebebasan peserta didik untuk tumbuh dan melindungi peserta didik dari tekanan keluarga dan masyarakat. Demikian juga hasil belajar yanag berkaitan dengan perkembangan sosial emosional lebih penting dibandingkan dengan hasil pendidikan yang bersifat akademik.
Rogers dan Daymond (Gage dan Berliner, 1994) menyatakan bahwa prosedur terapeutik yang menghasilkan seseorang yang mampu memandang diri sendiri secara berbeda, yakni menerima diri sendiri, perasaannya sendiri, dan orang lain secara penuh. Pendidik yang berhasil menciptakan suasana pendidikan seperti itu akan mampu mendorong peserta didik untuk menampilkan perilaku yang memiliki karakteristik tersebut. Namun demikian hasil belajar dalam pendekatan humanisik itu sukar dispesifikasi dalam bentuk perilaku dan sukar diukur, sebab pendekatan humanistik kurang menekankan pengetahuan dan ketrampilan, sebaliknya lebih menekankan pada hasil belajar yang lebih bersifat personal.
Pandangan Abraham Maslow
Abraham Maslow adalah tokoh gerakan psikologi humanistik di Amerika. Walaupun ia memperoleh pendidikan di kalangan behavioristik, Maslow mampu mengembangkan pandangan yang komprehensif tentang perilaku manusia. Kontribusi yang diberikan Maslow adalah motivasi, aktualisasi diri, dan pengalaman puncak yang memiliki dampak terhadap kegiatan belajar.
Maslow menyampaikan teori motivasi manusia berdasarkan pada hierarkhi kebutuhan. Kebutuhan pada tingkat paling rendah adalah kebutuhan fisik (physiological needs), seperti rasa lapar dan haus, dan harus dipenuhi sebelum individu dapat memenuhi kebutuhan akan rasa aman (safety needs). Kebutuhan yang ketiga adalah kebutuhan menjadi milik dan dicintai (sense of belongingness and love), kemudian kebutuhan penghargaan (esteem needs), yakni merasa bermanfaat dan hidupnya berharga, dan akhirnya kebutuhan aktualisasi diri (self actualization needs). Kebutuhan aktualisasi diri itu termanifestasikan di dalam keinginan untuk memenuhi sendiri (self fulfillment), untuk menjadi diri sendiri sesuai dengan potensi yang dimiliki.
Individu yang beraktualisasi diri menampilkan karakteristik sebagai berikut:
Berorientasi secara relistik.
Menerima diri sendiri, orang lain, dan dunia alamiah sebagaimana adanya.
Bersifat spontan dalam berpikir, beremosi, dan berperilaku.
Terpusat pada masalah (problem centered) dan bukan terpusat pada diri sendiri (self centered).
Memiliki kebutuhan privasi dan berupaya memperolehnya, jika memiliki kesempatan, serta memerlukan waktu berkonsentrasi unutk memperoleh sesuatu yang menarik bagi dirinya.
Bersifat otonomi, independen, dan mampu mempertahankan kebenaran ketika menghadapi perlawanan.
Kadang-kadang memiliki pengalaman mistik yang tidak berkaitan dengan pengalaman keagamaan
Merasa sama denagn manusia secara keseluruhan berkenaan bukan saja dengan keluarga, melainkan juga kesejahteraan dunia secara keseluruhan.
Memiliki hubungan dekat dan secara emosional denga orang-orang yang dicintai.
Memiliki struktur karakter demokratis berkenaan dengan penilaian individu dan mampu bersahabat bukan didasarkan ras, status, agama.
Memiliki etika yang berkembang terus.
Memiliki selera humor tinggi.
Memiliki selera kreativitas tinggi.
Menolak keseragaman budaya.
Dalam pandangan Maslow, tujuan pendidikan adalah aktualisasi diri atau membantu individu menjadi yang terbaik sehingga mereka mampu menjadi yang terbaik. Pendidik hendaknya menjadikan kegiatan belajar itu berasal dari dalam diri individu, yakni belajar berada pada diri manusia pada umumnya dan kedua belajar menjadi manusia tertentu.
Maslow disebut sebagai bapak spiritual psikologi humanistik di Anerika, juga bertanggungjawab dalam menyampaikan pandangan manusia sebagai peserta didik aktualisasi diri (self actualizing learner). Pandangan yang sama juga disampaikan ole Carl Rogers yang menyatakan orang yang berfungsi secara penuh (fully functioning person).
Pandangan Carl Rogers
Dalam teori diri sendiri (self), Rogers menyampaikan tiga unsur pokok pada diri Inividu, yaitu (a) organisme, yakni orang secara penuh, (b) medan fenomena, yakni totalitas pengalaman, dan (c) diri sendiri, yakni bagian dari medan yang terdeferensiasi. Rogers menyatakan adanya diri sendiri yang ideal dan diri sendiri yang nyata dimana orang itu akan berada. Kensenjangan antara keduanya dapat menjadi stimulus belajar dan potensi perilaku yang memunculkan tekanan tidak sehat.
Rogers mendeskripsikan proses belajar yang terdiri atas dorongan ke arah aktualisasi diri secara penuh. Ada kontinum makna yang terdapat di dalam belajar yang berentangan dari hafalan yan tidak ada artinya dan tidak bermakna sampai pada belajar eksperiental, bermakna, dan signifikan. Rogers menggambarkan kualitas belajar eksperiental dalam mengembangkan individu yang berfungsi secara penuh, sebagai berikut:
Keterlibatan personal, yakni aspek-aspek kognitif dan afektif individu harus terlibat di dalam peristiwa belajar.
Prakarsa diri, yakni menemukan kebutuhan yang berasal dari dalam diri.
Pervasif, yakni belajar memiliki dampak terhadap perilaku, sikap, atau kepribadian diri.
Evaluasi diri, yakni individu dapat mengevaluasi diri jika pengalamannya memenuhi kebutuhannya.
Esensi adalah makna, yakni apabila terjadi belajar eksperiental, maknanya menjadi terpadu dengan pengalamannya secara total.
Rogers memperkenalkan pandangannya tentang penggunaan proses kelompok untuk memperlancar kematangan emosi dan psikologis. Kelompok, yakni kelompok pelatihan (Training Group) dan kelompok kepekaan telah mencapai popularitas pada akhir tahun 1960an. Rogrs menyatakan bahwa perubahan perilaku yang terjadi di dalam kelompok tidak harus berlangsung lama. Individu mungkin terlibat secara mendalam di dalam mengungkapkan dirinya sendiri dan kemudian meninggalkan berbagai masalah yang tidak terselesaikan. Tekanan martal munkin muncul dan komplikasi mungkin berkembang berkenaan dengan hubungan antar anggota kelompok. Di samping adanya kelemahan itu, proses kelompok merupakan kekuatan untuk memanusiakan kembali hubungan manusia dan membantu menghidupkan secara penuh di sini dan sekarang (here and now).
Prinsip-Prinsip Belajar
Ada beberapa asumsi yang mendasari pendekatan humanistik dalam pendidikan. Pertama, peserta didik mempelajari apa yang mereka butuhkan dan ingin diketahui. Kedua, belajar tentang cara-cara belajar adalah lebih penting dibandingkan dengan memperoleh pengetahuan aktual. Ketga, evaluasi yang dilakukan oleh peserta didik sendiri adalah sangat bermanfaat dari pekerjaannya. Keempat, perasaan adalah sama pentingnya dengan fakta, dan belajar belajar merasakan adalah sama pentingnya dengan belajar cara-cara berpikir. Kelima, belajar akan terjadi apabila peserta didik tidak merasakan adanya ancaman.
Swa Arah (Self Direction)
Prinsip swa arah menyatakan bahwa sekollah hendaknya memberikan kepada peserta didik untuk memutuskan bahan belajar yang ingin dipelajari. Bahan belajar yang ingin dipelajari peserta didik adalah yang memenuhi kebutuan, keinginan, hasrat ingin tahu, dan fantasinya. Prinsip ini lebih menekankan pada motivasi intrinsik, dorongan dari dari dalam untuk bereksplorasi, dan hasrat hasrat ingin tahu yang timbul dari dalam diri.
Tugas fasilitator di dalam mengarahkan peserta didik menjadi pembelajar swa arah adalah sebaai berikut :
Mendorong peserta didik untuk memenuhi kompetensi baru.
Membantu memperjelas aspirasinya guna meningkatkan kompetensinya.
Memabntu mendiagnosis kesenjangan antara aspirasi dengan kinerjanya sekarang.
Membantu mengidentifikasi masalah kehidupan yang mereka alami.
Melibatkan peserta didik dalam proses merumuskan tujuan belajar dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik yang telah didiagnosis.
Belajar tentang Cara-Cara Belajar (Learning How to Learn)
Peserta didik yang mengetahui cara-cara mempelajari bidang-bidang pengetahuan memiliki harapan dalam memadukan belajar baru dengan belajar yang menantang mengenal situasi yang terus berubah. Apabila peserta didik dihadapkan ada tantangan baru, mereka akan mudah menyesuaikan diri.
Tugas fasilitator dalam membantu peserta didik mengetahui cara-cara belajar adalah sebagai berikut:
Memotivasi peserta didik mempelajari tugas-tugas belajar yang telah dirancang bersama.
Membantu merancabg pengalaman belajr, memilih bahan balajar, dan metode belajar, dan melibatkan peserta didik dalam pembuatan keputusan bersama.
Evaluasi Diri (Self Evaluation)
Evaluasi diri merupakan prasyarat bagi perkembangan kemandirian peserta didik. Evaluasi yang dilakukan oleh sekolah atau pendidik yang diakhiri dengan kenaikan kelas dan kelulusan dipandang sebagai tindakan yang mengganggu aktivitas belajar peserta didik. Demikian pula instrumen evaluasi yang diwujudkan dalam bentuk tes dipandang tidak relevan dengan pendekatan humanistik. Terlebih tes yang disusun dalam bentuk tes obyaktif yang memiliki karakteristik jawaban yang benar adalah satu. Dalam pendekatan humanistik, peserta didik tidak dievaluasi dengan cara membandingkan dengan peserta lain atau dengan standar yang ditetapkan oleh pendidik, melainkan sebaliknya dievaluasi dengan menggunakan standar peserta didik itu sendiri, tanpa ada grading (seperti pemberian nilai A, B, dan sejenisnya). Untuk merealisasikan prinsip evaluasi diri itu pendidik dan peserta didik hendaknya bertemu secara reguler untuk melaksanakan perencanaan pembelajaran dan kontrak kegiatan belajar. Dalam pertemuan itu, mereka bersama-sama merumuskan kriteria untuk digunakan dalam evaluasi, dan peserta didik memiliki kesempatan untuk melaksanakan dan mengevaluasi diri.
Tugas fasilitator di dalam kegiatan evaluasi diri pada peserta didik adalah sebagai berikut:
Melibatkan peserta didik dalam mengembangkan kriteria kinerja, dan metode dalam mengukur kemajuan tujuan belajarnya.
Membantu mengembangkan dan menerapkan prosedur evaluasi kemajuan belajar.
Pentingnya Perasaan (Important of Feelings)
Pendekatan hummanstik tidak membedakan domain kognitif dan afektif dalam belajar. Dalam arti kedua domain itu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Dari sudut pandang pendekatan humanisti, belajar merupakan kegiatan memperoleh informasi atau pengalaman baru, dan secara personal peserta didik menemukan makna akan informasi atau pengalaman baru tersebut. Secara spesifik, para pakar humanistik merekomendasikan bahwa pendidik dalam melaksanakan pembelajaran hendaknya menekankan nilai-nilai kerjasama saling menghormati dan kejujuran, baik pada waktu membuat contoh dan pada waktu mendiskusikan serta memperkuat nilai-nilai yang dipelajari oleh peserta didik.
Tugas fasilitator di dalam mengembangkan perasaan positif peserta didik terhadap pembelajaran adalah sebaga berikut:
Membantu peserta didik menggunakan pengalamannya sendiri sebagai sumber belajar dengan menggunakan pengalamannya sendiri sebagai sumber belajar dengan menggunakan teknik seperti diskusi, permanan peran, studi kasusu, dan sejenisnya.
Menyampaikan isi pembelajaran berdasarkan sumber-sumber belajar yang sesuai dengan tingkat pengalaman peserta didik.
Membantu menerapkan hasil belajar ke dalam dunia nyata (transfer of learning). Hal ini akan membuat belajar lebih bermakna dan terpadu.
Bebas dari Ancaman (Freedom of Threat)
Belajar akan lebih mudah, lebih bermakna dan lebih diperkuat apabila belajar itu terjadi dalam suasana bebas dari ancaman. Kegiatan belajr yang dipandang membebaskan peserta didik dari ancaman adalah pembelajaran yang diwarnai oleh suasana demokratis secara bertanggungjawab. Sebaliknya, kegiatan belajar yang diwarnai dengan berbagai ancaman, peserta didik akan merasa gagal sebelum melaksanakan kegiatan belajar, dan peserta didik yang merasa gagal itu pada akhirnya tidak akan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Tugas fasilitator dalam menciptakan iklim belajar yang bebas dari ancaman adalah sebagai berikut:
Menciptakan kondisi fisik yang menyenangkan, seperti tempat duduk, ventilasi, lampu, dan kondusif untuk terciptanya interaksi antar peserta didik.
Memandang bahwa setiap peserta didik merupakan pribadi yang bermanfaat, dan menghormati perasaan dan gagasan-gagasannya.
Membangun hubungan saling membantu antar peserta didik dengan mengembangkan kegiatan-kegiatan yang ersifat kooperatif an mencegah adanya persaingan dan saling memberikan penilaian.
Implikasi dan Aplikasi Teori Belajar Humanistik dalam Pembelajaran Siswa
Implikasi Teori Belajar Humanistik dalam Pembelajaran Siswa
Guru Sebagai Fasilitator
Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator. Berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas fasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa (petunjuk):
Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas
Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok
Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa
Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar
Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk menganali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.
Aplikasi Teori Belajar Humanistik Terhadap Pembelajaran Siswa
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
Merumuskan tujuan belajar yang jelas
Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif.
Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri
Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri
Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.
Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.
Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.
Ciri-ciri guru yang baik dan kurang baik menurut Humanistik
Guru yang baik menurut teori ini adalah : Guru yang memiliki rasa humor, adil, menarik, lebih demokratis, mampu berhubungan dengan siswa dengan mudah dan wajar.Ruangkelads lebih terbuka dan mampu menyesuaikan pada perubahan.
Sedangkan guru yang tidak efektif adalah guru yang memiliki rasa humor yang rendah ,mudah menjadi tidak sabar ,suka melukai perasaan siswaa dengan komentsr ysng menyakitkan,bertindak agak otoriter, dan kurang peka terhadap perubahan yang ada.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Teori Belajar Humanistik adalah suatu teori dalam pembelajaran yang mengedepankan bagaimana memanusiakan manusia serta peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya. Adapun tokoh dalam teori ini adalah Abraham Maslow, C. Roger dan Arthur Comb, dll.
Aliran Humanistik muncul sekitar tahun 1960-1972. Kemudian muncul bebrapa perubahan dan inovasi baru sampai dekade terakhir.
Kemudian aplikasi dalam teori ini, siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku. Serta guru hanya berperan sebagai fasilitator.
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
Merumuskan tujuan belajar yang jelas.
Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas, jujur dan positif.
Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri.
Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri.
Siswa didorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.
Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya.
Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Rifai RC Achmad,dkk. 2012. Psikologi Pendidikan. Semarang: Pusat Pengembangan MKU/MKDK-LP3
http://diendafreemakalah.blogspot.com/2013/11/makalah-teori-humanistik.html
https://novinasuprobo.wordpress.com/2008/06/15/teori-belajar-humanistik/
Teori belajar kognitif
Bab I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Psikologi belajar sebagai disiplin ilmu yang merupakan cabang psikologi, yang kajiannya dikhususkan pada masalah belajar, maka psikologi belajar memiliki ruang lingkup di sekitar masalah belajar. Psikologi belajar memiliki ruang lingkup yang secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga pokok bahasan, yaitu masalah belajar, proses belajar, dan situasi belajar.
Belajar merupakan satu kata yang sudah tidak asing lagi didengar pada hampir semua lapisan masyarakat. Pada hal ini, para ahli psikologis dan pendidikan memiliki makna berbeda tentang belajar. Misalnya, James O. Whittaker dalam , merumuskan belajar sebagai proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Belajar juga merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku menuju perubahan tingkah laku yang baik, dimana perubahan tersebut terjadi melalui latihan atau pengalaman. Perubahan tingkah laku tersebut harus relatif mantap yang merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang (Nidawati, 2013). Sehingga dapat disimpulkan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor.
Adapun pokok bahasan mengenai belajar yang dapat menunjang proses belajar anatara lain teori-teori belajar, prinsip-prinsip belajar, hakikat belajar, jenis-jenis belajar, aktivitas-aktivitas belajar, teknik belajar efektif, karakteristik perubahan hasil belajar, manifestasi perilaku belajar, dan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar.
Teori Belajar dan Pembelajaran dalam rangka meningkatkan kemampuan pendidik, mereka harus memiliki dasar empiris yang kuat untuk mendukung profesi mereka sebagai pengajar. Kenyataan yang ada, kurikulum yang selama ini diajarkan di sekolah menengah kurang mampu mempersiapkan siswa untuk masuk ke perguruan tinggi. Berdasarkan penelitian Jerome S. Bruner dalam Nurhadi (2020), menjelaskan bahwa dari segi psikologis dan dari desain kurikulum pembalajaran sangatlah minim dibahas tentang teori pembelajaran. Teori pembelajaran yang sudah ada selama ini, hanya terfokus pada kepentingan teoritis semata. Sebagai contoh teori konektionisme dari Thorndike. Dimana belajar menurut teori ini bersifat mekanistis, dalam hal ini, apabila stimulus dengan sendirinya atau secara mekanis timbul, maka anak didik hanya akan menghafal bahan pelajaran dengan sedikit pemahaman dan pemakaiannya. Sehingga pada teori belajar ini, anak didik bersifat pasif. Anak didik kurang terdorong untuk berpikir dan juga ia tidak ikut menentukan bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Anak didik lebih mengharapkan stimulus dari guru. Apabila guru tidak memberi stimulus, maka anak didik tidak kreatif dan aktif untuk belajar mandiri.
Dari permasalahan di atas, kita menyadari bahwa, sebuah teori pembelajaran sebaiknya juga menyangkut suatu praktek untuk membimbing seseorang bagaimana caranya siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan, pandangan hidup, serta pengetahuan akan kebudayaan masyarakat sekitarnya. Akan hal itu, perlu adanya penjelasan dan pembahasan terkait dengan teori pembelajaran. Agar lebih spesifik dan terfokus, dalam makalah ini akan hanya akan menguraikan dan menjelaskan satu dari beberapa teori pembelajaran yang sudah ada, yaitu pada Teori Pembelajaran Kognitivistik.
Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang hendak dibahas dalam makalah ini, yaitu:
Apakah pengertian dari teori belajar kognitif?
Apa saja kelebihan dan kelemahan teori kognitif?
Bagaimana aplikasi teori balajar kognitif dalam kegiatan pembelajaran?
Tujuan
Bersumber pada rumusan masalah di atas, tujuan dalam penyusunan makalah ini, antara lain:
Mengetahui pengertian dari teori belajar kognitif.
Mengetahui kelebihan dan kekurangan teori belajar kognitif.
Mengetahui pengaplikasian teori belajar kognitif dalam pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Teori Belajar Kognitif
Hakekat belajar menurut teori kognitif dijelaskan sebagai suatu aktivitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi perseptual, dan proses internal. Dalam menemukan tujuan pembelajaran, mengembangkan strategi dan tujuan pembelajaran, tidak lagi mekanistik sebagaimana yang dilakukan dalam pendekatan behavioristik. Kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi siswa (Nurhadi, 2020).
Teori kognitif meliputi kegiatan-kegiatan mental yang sadar seperti berfikir, mengetahui, memahami, dan kegiatan konsepsi mental seperti: sikap, kepercayaan, dan pengharapan, yang kemudian itu merupakan faktor yang menentukan di dalam perilaku. Teori belajar kognitif adalah salah satu teori belajar yang sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan dalam mendidik dan mengajar. Teori ini berbeda dan menentang teori behavioristik yang memandang belajar sebagai kegiatan makanistik antara stimulus dan respon. Aliran kognitif memandang belajar lebih dari sekedar melibatkan stimulus dan respon, tetapi juga melibatkan kegiatan mental di dalam individu yang sedang belajar.
Teori Belajar Kognitifistik juga disebut sebagai perubahan persepsi dan pemahaman, yang tidak selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur. Asumsi teori ini adalah bahwa setiap orang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang telah tertata dalam bentuk struktur kognitif yang dimilikinya. Proses belajar akan berjalan dengan baik jika materi pelajaran atau informasi baru beradaptasi dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang.
Kelebihan Dan Kelemahan Teori Belajar Kognitif
Dalam penjelasannya, belajar dan pembelajaran memiliki beberapa teori yang dapat mendukung dan meningkatkan progress dari proses belajar dan pembelajaran tersebut. Sehingga setiap teori pembelajaran pastilah dibandingkan dengan teori pembelajaran yang lain untuk mencari kelebihan dan kekurangan guna sebagai tolak ukur dalam pelaksanaannya.
Berikut adalah kelebihan dan kekurangan teori belajar kognitif:
Kelebihan Teori Belajar kognitif
Menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri. Dalam hal ini dapat membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah.
Sebagian besar dalam kurikulum pendidikan negara Indonesia lebih menekankan pada teori kognitif yang mengutamakan pada pengembangan pengetahuan yang dimiliki pada setiap individu.
Pada metode pembelajaran kognitif pendidik hanya perlu memeberikan dasar-dasar dari materi yang diajarkan unruk pengembangan dan kelanjutannya deserahkan pada peserta didik, dan pendidik hanya perlu memantau, dan menjelaskan dari alur pengembangan materi yang telah diberikan. Dengan begitu teori ini tidak hanya menekankan pemahaman bagi pendidik, akan tetapi peserta didik juga berperan besar untuk mengerti dan memahami materi.
Dengan menerapkan teori kognitif ini maka pendidik dapat memaksimalkan ingatan yang dimiliki oleh peserta didik untuk mengingat semua materi-materi yang diberikan karena pada pembelajaran kognitif salah satunya menekankan pada daya ingat peserta didik untuk selalu mengingat akan materi-materi yang telah diberikan.
Menurut para ahli kognitif itu sama artinya dengan kreasi atau pembuatan satu hal baru atau membuat suatu yang baru dari hal yang sudah ada, maka dari itu dalam metode belajar kognitif peserta didik harus lebih bisa mengkreasikan hal-hal baru yang belum ada atau menginovasi hal yang yang sudah ada menjadi lebih baik lagi.
Kekurangan Teori Belajar Kognitif
Teori tidak menyeluruh untuk semua tingkat pendidikan, artinya sulit dipraktikkan khususnya pada tingkat lanjut. Beberapa prinsip seperti
intelegensi sulit dipahami dan pemahamannya masih belum tuntas.
Pada dasarnya teori kognitif ini lebih menekankan pada kemampuan ingatan peserta didik, sehingga kelemahan yang terjadi di sini adalah selalu menganggap semua peserta didik itu mempunyai kemampuan daya ingat yang sama dan tidak dibeda-bedakan.
Adakalanya juga dalam metode ini tidak memperhatikan cara peserta didik dalam mengeksplorasi atau mengembangkan pengetahuan dan cara-cara peserta didiknya dalam mencarinya, karena pada dasarnya masing-masing peserta didik memiliki cara yang berbeda-beda.
Apabila dalam pengajaran hanya menggunakan metode kognitif, maka dipastikan peserta didik tidak akan mengerti sepenuhnya materi yang diberikan.
Teori tidak dianjurkan bagi sekolah kejuruan. Jika dalam sekolah kejuruan hanya menggunakan metode kognitif tanpa adanya metode pembelajaran lain maka peserta didik akan kesulitan dalam praktek kegiatan atau materi.
Dalam menerapkan metode pembelajran kognitif perlu diperhatikan kemampuan peserta didik untuk mengembangkan suatu materi yang telah diterimanya.
Teori Kognitif Dalam Proses Belajar
Dalam proses belajar mengajar diperlukan cara yang tepat untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal. Berikut adalah aplikasi teori belajar kognitif menurut teori gestalt dalam proses pembelajaran:
Pengalaman tilikan (insight); Tilikan bisa disebut juga pemahaman mengamati. Dalam proses belajar, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu mengenal keterkaitan unsur-unsur suatu objek atau peristiwa.
Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); dalam hal ini unsur-unsur yang bermakna akan sangat menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Hal ini akan sangat bermanfaat dan membantu peserta dalam menangani suatu masalah. Jadi, hal-hal yang dipelajari para peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
Perilaku bertujuan (pusposive behavior); suatu perilaku akan terarah pada tujuan. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika para peserta didik mengerti tujuan yang ingin dicapainya. Jadi, hendaknya para guru membantu para peserta didik untuk memahami arah dan tujuannya.
Prinsip ruang hidup (life space); perilaku individu memiliki hubungan dengan tempat dan lingkungan dia berada. Jadi, materi yang diajarkan harusnya berhubungan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan individu.
Transfer dalam belajar, yaitu proses pemindahan pola tingkah laku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian objek dari satu konfigurasi ke konfigurasi lain dalam tata susunan yang tepat. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah pada situasi lain (Yossita Wisman, 2020).
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari ulasan di atas dapat ditarik kesimpulan, sebagai berikut:
Teori belajar kognitif adalah teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajarnya. Teori belajar kognitif adalah teori belajar yang paling banyak digunakan di Indonesia. Teori ini merupakan kritik dari teori-teori yang telah ada sebelumnya seperti teori behavioristik, dimana teori kognitivisme kurang setuju bahwa belajar hanya proses antara stimulus dan respons yang tersusun secara mekanistik. Yang terpenting di dalam teori kognitif adalah pemahaman terhadap situasi yang ada di lingkungan sehingga individu mampu memcahkan permasalahan yang dihadapinya dan juga bagaimana individu berpikir (thinking).
Kelebihan dan Kelemahan Teori Kognitivisme. Kelebihannya yaitu : menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri, membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah. Kekurangannya yaitu : teori tidak menyeluruh untuk semua tingkat pendidikan, tidak dianjurkan pada sekolah kejuruan.
Hakekat belajar menurut teori kognitif dijelaskan sebagai suatu aktivitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi perceptual, dan proses internal. Kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi siswa.
Saran
Penyusun menyadari bahwa tulisan ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu diperlukan penilaian serta masukan dari dosen pengampu mata kuliah. Dengan demikian, diperoleh hasil yang sesuai dengan harapan, dan tentunya dapat bermanfaat sebagai tambahan bahan pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Nidawati. 2013. BELAJAR DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI DAN AGAMA. Jurnal Pionir, Volume 1, Nomor 1, Juli-Desember 2013
Nurhadi. 2020. TEORI KOGNITIVISME SERTA APLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN. Jurnal Edukasi dan Sains. Volume 2, Nomor 1, Juni 2020; 77-95 https://ejournal.stitpn.ac.id/index.php/edisi
Wisman, Yossita. 2020. Teori Belajar Kognitif Dan Implementasi Dalam Proses Pembelajaran. Jurnal Ilmiah Kanderang Tingan. Vol.11 No.1 Januari-Juni 2020. Terdapat dalam https://doi.org/10.37304/jikt.v11i1.88
Teori belajar klasik dan behavioristik
BAB I
A. PENDAHULUAN
Teori belajar Behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Metode behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membuthkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti : Kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau puji.
B. TUJUAN
Untuk mengetahui pengertian dari teori belajar behavioristik
Untuk mengetahui dan menjelaskan dari pemikiran berbagai tokoh-tokoh terhadap teori belajar Behavioristik
Untuk mengetahui dan menjelaskan apklikasi teori behavioristik terhadap pembelajaran siswa Untuk
Untuk mengatahui tujuan pembelajaran Behavioristik
Untuk Prinsip-prinsip teori pembelajaran behavioristik
Untuk mengetahui dan menjelaskan kelebihan dan kekurangan dalam teori pembelajaran Behavioristik
Untuk mengatahui teori belajar klasik
BAB II
PEMBAHASAN
2 . Pengertian Teori Belajar Behavioristik
Teori behavioristik adalah teori beraliran behaviorisme yang merupakan salah satu aliran psikologi. Teori belajar behavioristik ini dikenal dengan sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.
Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan tingkah lakunya. Misalnya; siswa belum dapat dikatakan berhasil dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial jika dia belum bisa/tidak mau melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti; kerja bakti, ronda dll.
Menurut teori ini yang terpenting adalah :
1. Masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons.
Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa misalnya alat perkalian, alat peraga, pedoman kerja atau cara-cara tertentu untuk membantu belajar siswa, sedangkan respon adalah reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan guru tersebut.Teori ini juga mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal yang penting untuk melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
2. Penguatan (reinforcement)
Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Misalnya, ketika peserta didik diberi tugas oleh guru, ketika tugasnya ditambahkan maka ia akan semakin giat belajarnya, maka penambahan tugas tersebut merupakan penguatan positif dalam belajar, begitu juga sebaliknya.Prinsip-prinsip behaviorisme adalah :
1. Objek psikologi adalah tingkah laku
2. Semua bentuk tingkah laku dikemalikan kepada reflek
3. Mementingkan terbentuknya kebiasaan.
3. Tokoh-Tokoh dan Pemikirannya terhadap Teori Belajar Behavioristik.
a. Edward Lee Thorndike(1874-1949)
Thorndike adalah seorang pendidik dan sekaligus psikolog berkebangsaan Amerika uus S1 dari Universitas Weseyan tahun 1895,S2 dari Harvard Tahun 1896 dan meraih gear Dokter di Coumbia tahun 1898. Menurutnya” belajar merupakan proses interaksi antara Stimulus (S) yang mungkin berupa pikiran, perasaan atau gerakan dan Respon (R) yang juga berupa pikiran, perasaan atau gerakan.”
Stimulus adalah perubahan dari lingkungan exsternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi/berbuat. Sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Dari percobaannya yang terkenal (puzzle box) diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respon, perlu adanya kemampuan untuk memilih respon yang tepat serta melalui usaha-usaha atau percobaan-percobaan (trial) dan kegagalan-kegagalan (Error) terlebih dahulu. Bentuk paling dasar dari belajar adalah Trial and Error learning atau selecting and conecting learning dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh thorndike ini sering disebut teori belajar koneksionisme atau asosiasi.
Edward L. Thorndike dalam teori connectionism dari Amerika Serikat, menyatakan bahwa dasar dari belajar adalah asosiasi antara kesan panca indera dan inplus untuk bertindak atau terjadinya hubungan antara stimulus dan respon disebut Bond, sehingga dikenal dengan teori S – R Bond.
Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut
1. Hukum kesiapan (Law of readiness)
Yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasaan individu sehingga asosiasi cenderung di perkuat.
2. Hukum Latihan (law of exercise)
Yaitu semakin sering suatu tingkah laku di ulang/di latih (digunakan) ,maka asosiasi tersebut akan semakin kuat.
3. Hukum akibat (law of effect)
Yaitu hubungan stimulus respon cenderung di perkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan Selanjutnya Thorndike menambahan hukum tambahan sebagai berikut :
Hukum Reaksi Bervariasi (Multiple Response)
Hukum ini mengatakan bahwa pada individu diawali oleh proses trial dan eror yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang di hadapi.
Hukum sikap (set/attitude)
menjelaskan bahwa perilaku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus dengan respon saja,teteapi juga di tentukan keadfaan yang ada dalam diri individu baik kognitif,emosi,sosial,maupun psikomotornya.
Hukum Aktivitas Berat Sebelah (Prepotency of Element)
Bahwa individu dalam proses belajar memberikan respon hanya pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi (respon selektif) .
Hukum Respon by Analogy
Hukum ini mengatakan bahwa individu dapat melakukan respon pada situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal kesituasi baru. Makin banyak unsur yang sama/identik,maka transfer akan makin mudah .
Hukum perpindahan asosiasi (Associative Shifting)
Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang dikenal kesituasi yang belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikiut demi sedikit unsur lama.
b. Burhus Fredederic Skinner (1904-1990)
B. F. Skinner adalah seorang yang berkebangsaan Amerika yang dikenal sebagai seorang
tokoh behavioris yang meyakini bahwa perilaku individu dikontrol melalui proses operant
conditioning dimana seseorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian
reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan yang relatif besar. Gaya mengajar guru
dilakukan dengan beberapa pengantar dari guru secara searah dan dikontrol guru melalui
pengulangan (drill) dan latihan (exercise).
Menagement kelas menurut skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku
antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang
diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yang tidak tepat. Operant
Conditioning atau pengkondisian operan adalah suatu proses perilaku operant (penguatan
positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau
menghilang sesuai dengan keinginan.
Beberapa prinsip belajar Skinner antara lain :
Hasil belajar harus segera di beritahukan kepada siswa,jika salah dibetulkan,jika benar
diberi penguat.
Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
Materi pelajaran digunakan sistem modul.
Dalam proses pembelajaran ,lebih di pentingkan aktivitas sendiri.
Dalam proses pembelajaran,tidak digunakan hukuman. Untuk ini,lingkungan perlu diubah .
untuk menghindari adanya hukuman.
Tingkah laku yang diinginkan pendidik,diberi hadian,dan sebaiknya hadian diberikan.
dengan jadwal variable rasio reinforcer.
Dalam pembelajaran,digunakan shaping.
c. David Ausubel
Lahir pada 25 Oktober 1918 di Brooklyn New York.Belajar menurut Ausubel adalah
proses internal yang tidak dapat diamatisecara langsung. Perubahan terjadi dalam
kemampuan seseorang untuk bertingkahlaku dan berbuat dalam situasi tertentu, perubahan
dalam tingkah laku hanyalahsuatu reflek dari perubahan internal (berbeda dengan aliran
behaviorisme, aliran kognitif mempelajari aspek-aspek yang tidak dapat diamati secara
langsungseperti, pengetahuan, arti, perasaan, keinginan, kreativitas, harapan dan pikiran).
Belajar bermakna menurut Ausubel merupakan suatu proses dikaitkannya informasi
barupada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang faktor yang paling penting yang mempengaruhi belajar adalah apa yang telah diketahui siswa.Pandangan Ausubel agak berlawanan dengan Burner yang beranggapan bahwa belajar dengan menemukan sendiri (discovery learning) adalah sesuaidengan hakikat manusia sebagai seorang yang mencari-cari secara aktif dan menghasilkan pengetahuan serta pemahaman yang sungguh-sungguh bermakna Sedang menurut Ausubel kebanyakan orang belajar terutama dengan menerima dari orang lain (reception learning).
d. Robert Gagne
Gagne adalah seorang psikolog pendidikan berkebangsaan Amerika yang terkenal
dengan penemuannya berupa Conditions of Learning. Ia lahir pada 21 Agustus 1918.
Teori Gagne banyak dipakai untuk mendesain software instruksional (program –
program berupa drill, tutorial atau simulasi). Kontribusi terbesar dari teori instruksional
Gagne adalah “9 kondisi Instruksional” yaitu :
Mendapatkan perhatian
Menginformasikan siswa mengenai tujuan yang akan dicapai
Stimulasi kemampuan dasar siswa untuk persiapan belajar
Penyajian materi baru
Menyediakan pembimbingan
Memunculkan tindakan
Siap memberikan umpan balik langsung terhadap hasil yang baik
Menilai hasil belajar yang ditunjukkan
Meningkatkan proses penyimpanan memori dan mengingat
Gagne mencatat ada delapan tipe belajar :
Belajar isyarat (signal learning)
Belajar stimulus respon
Belajar merantaikan (chaining)
Belajar asosiasi verbal (verbal Association)
Belajar membedakan (discrimination)
Belajar konsep (concept learning)
Belajar dalil (rule learning)
Belajar memecahkan masalah (problem solving)
e. Albert Bandura
Bandura lahir tanggal 4 Desember 1925 di Mundare Alberta. Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. Teori belajar sosial 10 bandura menunjukkan pentingnya proses mengamati dan meniru perilaku, sikap dan reaksi emosi orang lain.
Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku dan pengaruh lingkungan.
Faktor – faktor yang berproses dalam belajar observasi adalah :
Perhatian (atensi), mencakup peristiwa peniruan (adanya kejelasan, keterlibatan perasaan, tingkat kerumitan, kelaziman, nilai fungsi) dan karakteristik pengamat
(kemampuan indra, minat, presepsi, penguatan sebelumnya).
Penyimpanan atau proses mengingat, mencakup kode pengkodean simbolik,
pengorganisasian pikiran, pengulangan simbol, pengulangan motorik
Reproduksi motorik, mencakup kemampuan fisik, kemampuan meniru, keakuratan
umpan balik
Motivasi, mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri.
4. Aplikasi teori behaviorisme terhadap pembelajaran Siswa
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran yaitu karena memandang pengetahuan adalah objektif, pasti, tetap dan tidak berubah pengetahuan disusun dengan rapi sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowladge) kepada orang yang belajar. Fungsi pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yang sudah ada melalui proses berfikir yang dapat dianalisis dan dipilih, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berfikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Ciri – ciri kuat yang mendasari penerapan teori behavioristik :
1. Mementingkan pengaruh lingkungan
2. Mementingkan bagian – bagian (elementalistik)
3. Mementingkan peranan reaksi
4. Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya
5. Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan.
6. Mengutaman mekanime terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon
7. Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan
5.Tujuan Pembelajaran Behavioristik
Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas mimetic, yang menuntut pembelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada ketrampilan yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan.
1. Berkomunikasi atau transfer prilaku adalah pengambaran pengetahuan dan kecakapan peserta didik (tidak mempertimbangkan proses mental).
2. Pengajaran adalah untuk memperoleh keinginan respon dari peserta didik yang dimunculkan dari stimulus
3. Peserta didik harus mengenali bagaimana mendapatkan respon sebaik mungkin pada kondisi respon diciptakan.
Evaluasi menekankan pada respon pasif, ketrampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntut jawaban yang benar. Maksudnya bila pembelajar menjawab secara benar sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukkan bahwa pebelajar telah menyelesaikan tugas belajarnya. Evaluasi belajar dipandang sebagi bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan pebelajar secara individual.
6. Prinsip-prinsip teori Pembelajaran Behavioristik
Berikut ini adalah prinsip-prinsip pembelajaran behavioristik menekankan pada pengaruh lingkungan terhadap perubahan perilaku :
1. Mengunakan prinsip penguatan, yaitu untuk menidentifikasi aspek paling diperlukan dalam pembelajaran untuk mengarahkan kondisi agar peserta didik dapat mencapai peningkatan yang diharapkan dalam tujuan pembelajaran.
2. Menidentifikasi karakteristik peserta didik, untuk menetapkan pencapaian tujuan pembelajaran.
3. Lebih menekankan pada hasil belajar daripada proses pembelajaran.
7. Kelebihan dan kekurangan dalam teori pembelajaran behavioristik
Dalam teknik pembelajaran yang merujuk ke teori behavioristik terdapat beberapa kelebihan di antaranya :
1) Membiasakan guru untuk bersikap jeli dan peka pada situasi dan kondisi belajar.
2) Metode behavioristik ini sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: kecepatan, spontanitas, kelenturan, refleksi, daya tahan, dan sebagainya.
3) Guru tidak banyak memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan belajar mandiri. Jika menemukan kesulitan baru ditanyakan kepada guru yang bersangkutan
4) Teori ini cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa , suka mengulangi dan harus dibiasakan , suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.
b. Kekurangan :
1. Memandang belajar merupakan asosiasi belaka antara stimulus dan respon
2. Mengabaikan pengertian belajar sebagai unsur pokok
3. Proses belajar berlangsung secara teori
Selain teorinya, beberapa kekurangan perlu dicermati guru dalam menentukan teknik pembelajaran yang mengacu ke teori ini, antara lain:
a) Sebuah konsekuensi bagi guru, untuk menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap
b) Tidak setiap mata pelajaran bisa menggunakan metode ini
c) Penerapan teori behavioristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid
d) Murid berperan sebagai pendengar dalam proses pembelajaran dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif
e) Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oleh para tokoh behavioristik justru dianggap metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa
f) Murid dipandang pasif, perlu motivasi dari luar dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru.
8. Teori Klasik
Sebelum Abad ke-20, Teori Belajar Klasik :
a. Menurut teori humanistik tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika siswa telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Dengan kata lain, siswa telah mampu mencapai aktualisasi diri secara optimal. Teori humanistik cenderung bersifat eklektik, maksudnya teori ini dapat memanfaatkan teori apa saja asal tujuannya tercapai. Aplikasi teori humanistik dalam kegiatan pembelajaran cenderung mendorong siswa untuk berfikir induktif. Teori ini juga amat mementingan faktor pengalaman dan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar.
Teori disiplin mental humanistic, bersumber pada psikologi humanisme klasik dari Plato dan Aristoteles. Humanistic terbagi menjadi dua yaitu pschycidelic (dengan melakukan sendiri), dan scientistic (dengan memecahkan masalah). Teori ini hampir sama dengan teori pertama bahwa anak memiliki potensi-potensi. Potensi perlu dilatih agar berkembang. Perbedaannya dengan teori disiplin mental theistic , teori tersebut menekankan, keseluruhan, keutuhan. Pendidikanya menekankan bagian-bagian, latihan bagian atau aspek tertentu. Teori disiplin mental humanistic lebih menekankan pendidikan umum (general education) kalau orang menguasi hal-hal yang bersifat umum akan mudah ditransfer atau diaplikasikan pada hal-hal yang bersifat yg khusus.
b. Teori disiplin mental theistic, berasal dari psikologi daya. Menurut teori ini individu atau anak mepunyai sejumlah daya mental seperti daya untuk mengamati, menganggap, mengingat, berfikir, memecahkan masalah dan sebagainya. Belajar merupakan proses melatih daya-daya tersebut. Jika daya-daya tersebut terlatih maka dengan mudah dapat digunakan untuk menhadapi atau memecahkan berbagai masalah.
kosong yang siap ditulis oleh pendidik dan lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap anak itu nantinya”.
• M. David Merril (Kognitif)
Pelajaran diklasifikasikan menjadi 4, antara lain :
1. Fakta
2. Konsep
3. Prosedur
4. Prinsip
Tingkatan yang paling tinggi adalah menemukan prinsip. Tingkatan yang paling rendah adalah mengingat fakta
c. Teori naturalisme (perkembangan alamiah) atau unfoldment atau self actualization. Teori ini berpangkal dari psikologi naturalisme romantic, dengan tokoh utamanya Jean Jacques Rouseau. Sama dengan teori kedua sebelumnya bahwa anak mempunyai sejumlah potensi atau kemampuan. Kelebihan dari teori ini, berasumsi bahwa individu bukan saja hanya mempunyai potensi atau kemampuan untuk berbuat atau melakukan berbagai tugas, tetapi juga memiliki kemauan dan kemampuan untuk belajar dan belajar sendiri. Agar anak dapat berkembang dan menaktualisasikan segala potensi yang dimilikinya. Pendidik atau guru perlu menciptakan situasi permisif yang jelas. Melalui situasi demikian, ia dapat belajar sendiri dan mencapai perkembangan secara optimal.
d. Teori belajar yang keempat adlah teori apersepsi, disebut juga herbartisme, bersumber pada psikologi structuralisme dengan tokoh utamanya Herbart. Menurut aliran ini, belajar adalah membentuk masa apersepsi. Anak mempunyai kemampuan untuk mempelajari sesuatu. Hasil dari suatu perbuatan belajar disimpan dan membentuk suatu masa apersepsi (mengasosiasikan gagasa-gagasan yang lama kegagasan baru), dan masa apersepsi ini digunakan untuk mempelajari atau menguasai pengetahuan selanjutnya, semakin tinggi perkembangan anak, semakin tinggi pula masa apersepsinya.
Teori belajar klasik didasarkan pada pemikiran para filosifis yang bersifat subyektif:
1. Teori disiplin mental / psikologi fakultas / psikologi unsur
Belajar melalui instropeksi otak mns terdiri atas bagian-bagian yang memiliki tugas berbeda (Berpikir, meraba, fantasi, perasaan, kehendak) jiwa mns terdiri dari unsur-unsur tertentu dan unsur-unsur tersebut disebut dengan daya-daya jiwa. Orang akan dapat belajar jika mentalnya dilatih dengan keras terutama daya nalarnya dan selanjutnya belajar identik dengan mengasah otak.
Pandangan klasik : Orang pintar adalah orang yang menguasai ilmu pasti (logis matematik dan logis bahasa).
2. Teori Humanisme klasik (Maslow)/ Naturalisme (J.J. Rosseou dan Pestalzzi.)
• Maslow
Ia mengumpulkan biografi orang-orang terkenal dari berbagai bidang. Semua orang yang normal berpotensi untuk menjadi orang hebat.
Manusia sebagai satu kepribadian yang utuh jiwa manusia ada tiga aspek, antara lain : Afeksi, Kognitif, Psikomotor.
• J.J. Rosseou dan Pestalzzi
Anak pada waktu dilahirkan adalah baik, jika anak itu menjadi rusak itu karena pengaruh dari lingkungan disekitar anak tersebut. Karena pada masa itu moral manusia pada level yang terpuruk.
Belajar : Biarlah anak tumbuh kembang secara alamiah, jangan diapa-apakan, freedom to learn : biarlah anak belajar dengan bebas karena orang dapat mengaktualisasi dirinya jika orang tersebut tidak diganggu.
3. Teori Apersepsi dan teori Tabularasa / Impirisme
– Otak manusia seperti wadah yang siap mengkopi (Diisi) dengan apa saja dan pengetahuan yang telah masuk tersebut disebut Apersepsi
– Teori tabularasa / Empirisme oleh Jhon Lock “ Anak bagaikan kertas kosong yang siap ditulis oleh Pendidikan dan lingkungan yang mempunyai pengaruhnterhadap anak itu intinya .
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Teori behavioristik berpendapat bahwa semua perilaku dapat dijelaskan oleh sebab-sebab lingkngan, bukan oleh kekuatan internal. Behavioristik berpaku pada prilaku yang dapat diamati. Guru-guru yang menganut pandangan ini berpendapat, bahwa tingkah laku murid-murid merupakan reaksi-reaksi terhadap lingkungan mereka pada masa lalu dan masa sekarang dan bahwa segenap tingkah laku merupakan hasil belajar.
Kami selaku penulis sangat menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih sangat banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat kami harapkan. Sebagai bahan evalusi untuk pembuatan makalah-makalah yang selanjutnya.
Tokoh-Tokoh dan Pemikirannya terhadap Teori Belajar Behavioristik. :
Edward Lee Thorndike (1874-1949)
Burhus Fredederic Skinner (1904-1990)
David Ausubel
Robert Gagne
Ivan Petrovich Pavlov
Albert Bandura
2. Saran
Kita sebagai calon guru harusnya mampu mendidik para peserta didik kita dengan baik, dengan metode serta teori yang tepat sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan baik. Oleh karena itu pelajarilah teori-teori pembelajaran yang ada agar kita mampu menemukan kecocokan dalam metode mengajar yang tepat.
DISKUSI
1.Menururt apakah anda teori behavioristik dapat diterapkan
2.Jelaskan contoh belajar menggunakan teori behavioristik
3.Menurut anda apa saja saja didalam teori behavioristik yang terpenting dalam belajar
4. Apa yang harus dilakukan guru dalam menerapkan teori behavioristik
5.Apa kelemahan dari teori belajar behavioristik
6.Manfaat dari teori behavioristik
F. DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu, Psikologi Belajar, Jakarta : PT. Asdi Mahasatya, 2004
B. Uno, Hamzah, Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran, Jakarta : PT Bumi Aksara, 2006
Bambang warsita, Teknologi pembelajaran, Rineka cipta, 2008.
Budiningsih, C., Asri , Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005
Kamalfachri, “Teori Behavioristik”, dalam Websitefile:///H:/Teori behavioristik dan Permaslahan/Kamalfachri. Weblog.htm, data diakses pada tanggal 2 Juni 2011.
Gage, N.L., & Berliner, D. Educational Psychology, 1979.
Hall S. Calvin & Lindzey, Gardner, Psikology kebribadian 3, Teori-Teori sifat dan behavioristik(diterjemahkan dari bukuTheories of personality, New york, Santa barbara Toronto, 1978) , yogyakarta: Kanisius, 1993.
Riyanto, Yatim, Paradigma Baru Pembelajaran, Jakarta : Pranada Media Group, 2009Skinner, The Behavior of Organism, 1989.
Slavin, Belajar dan Pembelajaran, 2000.
Sukardjo, Landasan Pendidikan Konsep dan Aplikasinya, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2009
Yamin, Martinis, Paradigma Baru Pembelajaran, Jakarta : Gaung Persada Press, 2011Kamalfachri, “Teori Behavioristik”, dalam Websitefile:///H:/Teori behavioristik dan Permaslahan/Kamalfachri. Weblog.htm, data diakses pada tanggal 2 Juni 2011.Diposkan oleh Ismail M.Pd.I di 00.49.
Karakteristik dan ragam belajar
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Belajar merupakan kunci yang paling vital dari setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin Ilmu yang berkaitan dengan upaya kependidikan, misalnya psikologi pendidikan dan psikologi belajar. Karena begitu pentingnya arti belajar maka bagian terbesar upaya riset dan eksperimen psikologi belajar pun diarahkan pada pencapaian pemahaman yang lebih luas dan mendalam mengenai proses perubahan manusia itu.
Konsep dasar belajar merupakan perubahan perilaku manusia manusia. Perubahan dan Kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Disebabkan karena kemampuan belajarlah manusia dapat berkembang lebih jauh dari makhluk lainya.
Belajar umumnya adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti berhasil atau gagalnya pencapaian pendidikan itu sangat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa keluarga baik ketika berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri. Oleh karena itu pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik. Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal-hal yang berkaitan dengannya mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan tema pada makalah yang kami susun, maka kami menyimpulkan lima rumusan masalah yang perlu dibahas yaitu:
Apa saja definisi dari belajar?
Bagaimana proses dan tahapan belajar?
Bagaimanakah cara-cara belajar yang baik?
Apakah prinsip-prinsip dalam belajar?
Apa saja saran yang perlu diketahui untuk membiasakan belajar yang optimal dan efisien?
BAB II
PEMBAHASAN
Definisi Belajar
Belajar (Ing: to study) berasal dari kata benda dasar ajar artinya petunjuk yang diberikan kepada seseorang supaya diketahui. Dengan demikian belajar mempunyai beberapa arti yaitu berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih dan berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.
Skinner, seorang pakar teori belajar dalam buku Educational Psychology berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif. Pendapat ini diungkapkan dengan pernyataan ringkasnya, bahwa belajar adalah: “…a proces of progressive behaviour adaptation ”. Berdasarkan eksperimennya, Skinner percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila belajar diberi penguat (reinforcer).
Hintzman dalam bukunya The Pshycology of Learning and Memory berpendapat bahwa: “learning is a change in organism due to experience which can affect the organism’s behaviour”. Jadi dalam pandangan Hintzman, perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi organisme.
Dalam penjelasan selanjutnya, Hintzman menambahkan bahwa pengalaman hidup sehari-hari dalam bentuk apa pun sangat memungkinkan untuk diartikan sebagai belajar. Alasannya, sampai batas tertentu pengalaman hidup juga berpengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian organisme yang bersangkutan. Mungkin inilah dasar pemikiran yang mengilhami gagasan everyday learning yang dipopulerkan oleh Profesor John B. Biggs.
Biggs sendiri mendefinisikan belajar menjadi tiga macam rumusan, yaitu rumusan kuantitatif, rumusan institusional dan rumusan kualitatif. Dalam rumusan-rumusan ini kata seperti perubahan dan tingkah laku tidak lagi disebut secara eksplisit mengingat kedua istilah ini menjadi kebenaran umum yang diketahui semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan.
Secara kuantitatif, belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi, belajar dalam hal ini dipandang dari sudut berapa banyak materi yang dikuasai siswa.
Secara institusional, belajar dipandang sebagai proses validasi terhadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah mereka pelajari. Ukurannya adalah semakin baik mutu mengajar yang dilakukan guru maka akan semakin baik pula mutu perolehan siswa yang kemudian dinyatakan dalam bentuk skor atau nilai.
Adapun pengertian balajar secara kualitatif adalah proses memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia disekeliling siswa. Belajar dalam pengertian ini difokuskan pada tercapainya daya pikir dan tindakan yang berkualitas untuk memecahkan masalah-masalah yang sedang dan akan dialami siswa.
Berdasarkan berbagai pendapat para pakar yang telah diuraikan di atas, secara umum belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.
Proses dan Tahapan Belajar
Proses berasal dari bahasa Latin processus yang berarti berjalan kedepan. Kata ini mempunya konotasi urutan langkah atau kemajuan yang mengarah pada suatu tujuan. Reber mengatakan dalam psikologi belajar, proses berarti cara atau langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapai nya hasil-hasil tertentu. Jadi, proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan proses perubahan perilaku kognitif, efektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi kearah yang lebih maju dari pada keadaan sebelumnya.
Menurut Arno F. Wittig (1981) dalam bukunya Psychology of Learning, setiap proses belajar selalu berlangsung dalam tiga tahapan yaitu:
Tahap penerimaan informasi
Tahap penyimpanan informasi
Tahap memanggil kembali informasi Storage Recall Acquisition
Pada tingkatan pertama seorang siswa mulai menerima informasi sebagai stimulus dan melakukan respons terhadapnya, sehingga menimbulkan pemahaman dan perilaku baru. Pada tahap ini terjadi pula asimilasi antara pemahaman dengan perilaku baru dalam kesulurahan perilakunya. Proses penerimaan dalam belajar merupakan tahap yang paling mendasar. Kegagalan dalam tahap ini akan mengakibatkan kegagalan pada tahap-tahap berikutnya.
Pada tingkatan penyimpanan, seorang siswa secara otomatis akan mengalami proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang mereka peroleh ketika dalam tahap penerimaan informasi. Peristiwa ini sudah tentu melibatkan fungsi short term dan long term memori.
Pada tingkatan terakhir, peserta didik akan mengaktifkan kembali fungsi-fungsi sistem memorinya seperti ketika menjawab pertanyaan atau menyelesaikan masalah. Tahap ini pada dasarnya adalah upaya atau peristiwa mental dalam mengungkapkan dan memproduksi kembali informasi yang tersimpan dalam memori sebagai respons yang sedang dihadapi.
Menurut Albert Bandura (1977), seorang behaviouris moderat penemu teori social learning, bahwa setiap proses belajar (terutama belajar social dalam menggunakan model) terjadi dalam tahapan peristiwa berikut:
Attentional Phase
Retention Phase
Reproduction Phase
Motivation PhaseImpuls Response
Tahap-tahap di atas berawal dari adanya peristiwa stimulus atau sajian perilaku model dan berakhir dengan penampilan atau kinerja (performance) tertentu sebagai hasil belajar seorang siswa. Dalam bukunya, Social Learning Theory, Albert Bandura sebagaimana yang dikutip oleh Pressly dan McCormic (1995:217-218) menguraikan tahapan-tahapan tersebut seperti tahapan-tahapan di bawah ini.
Tahap Perhatian. Pada tahap pertama ini para siswa pada umunya memusatkan perhatian pada objek materi atau perilaku model yang lebih menarik terutama karena keunikannya dibanding dengan materi atau dengan perilaku lain yang sebelumnya telah mereka ketahui. Untuk menarik perhatian para peserta didik, guru dapat mengekspresikan suara dengan intonasi khusus ketika menyajikan pokok materi atau bergaya dengan mimik tersendiri ketika menyajikan contoh perilaku tertentu.
Tahap Penyimpanan. Dalam tahap ini informasi berupa materi dan contoh perilaku model itu ditangkap, diproses dan disimpan dalam memori. Para peserta didik lazimnya akan lebih baik dalam menangkap dan menyimpan segala informasi yang disampaikan atau perilaku yang dicontohkan apabila disertai penyebutan atau penulisan nama, istilah dan label yang jelas serta contoh perbuatan yang akurat.
Tahap Reproduksi. Segala bayangan atau kode-kode simbolis yang berisi informasi pengetahuan dan perilaku yang telah tersimpan dalam memori peserta didik itu diproduksi kembali. Untuk mengidentifikasi tingkat penguasaan para peserta didik, guru dapat menyuruh mereka membuat atau melakukan lagi apa yang telah mereka serap.
Tahap Motivasi. Tahap terakhir dalam proses terjadinya belajar atau pembelajaran adalah tahap penerimaan dorongan yang dapat berfungsi sebagai reinforcement. Pada tahap ini, guru dianjurkan untuk memberi pujian, hadiah, atau nilai tertentu kepada peserta didik yang kinerjanya memuaskan. Sementara mereka yang belum menunjukkan kinerja yang memuaskan perlu diyakinkan akan arti penting penguasaan materi atau perilaku yang disajikan guru bagi kehidupan mereka. Seiring dengan upaya ini, ada baiknya ditunjukkan pula bukti-bukti kerugian orang yang tidak menguasai materi tersebut.
Cara Belajar yang Baik
Setiap peserta didik yang ingin berhasil dalam belajarnya pasti akan berusaha agar tujuannya bisa tercapai. Berbagai usaha dapat dilakukan untuk memperoleh hasil yang maksimal. Usaha untuk memperoleh hasil yang maksimal pada intinya adala belajar dengan cara yang baik, sesuai, tepat dan efektif. Namun model belajar setiap orang bisa berbeda-beda karena pengalaman keberhasilan seseorang dalam studinya tidak selalu sama persis. Maka disini akan disampaikan hal yang umumnya saja tentang hal yang perlu diperhatikan untuk cara belajar dengan baik, di antaranya adalah:
Mempunyai Fasilitas dan Perabotan Belajar.
Orang yang belajar tanpa dibantu dengan fasilitas tidak jarang mendapatkan hambatan dalam menyelesaikan kegiatan belajar. Karenanya fasilitas tidak bisa diabaikan dalam masalah belajar.
Fasilitas dan perabot belajar yang dimaksud tentu saja berhubungan dengan masalah materiil berupa kertas, pensil, buku catatan, meja dan kursi, mesin ketik (sekarang umumnya komputer), kertas karbon dan sebagainya.
Mengatur Waktu Belajar
Pelajar tidak bisa membagi waktunya akan menghadapi kebingungan, pelajaran apa yang harus dipelajari hari ini atau esok hari. Mahasiswa akan merasakan waktu yang terlalu sempit untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah belajar.dengan demikian, pelajar atau mahasiswa jangan sekali-kali mengabaikan masalah pembagian waktu ini, sekiranya ingin menjadi orang yang sukses studi.
Menguasai Bahan Pelajaran.
Setelah sekolah atau kuliah, jangan lupa untuk mengulangi bahan pelajaran di rumah atau di asrama. Apa yang guru / dosen jelaskan tidak mesti semuanya terkesan dengan baik. Tentu ada kesan-kesan yang masih samar-samar dalam ingatan. Pengulangan sangat membantu untuk memperbaiki semua kesan yang masih samar-samar itu untuk menjadi kesan-kesan yang sesungguhnya, yang tergambar jelas dalam ingatan.
Menghafal bahan pelajaran.
Menghafal bahan pelajaran merupakan salah satu kegiatan dalam rangka penguasaan bahan.
Membaca buku
Kegiatan membaca adalah kegiatan yang paling banyak dilakukan selama menuntut ilmu di sekolah atau di perguruan tinggi.
Membuat ringkasan dan ikhtisar.
Bagian kegiatan yang tidak kalah pentingnya dari semua kegiatan belajar adalah membuat ringkasan atau ikhtisar. Kegiatan ini dilakukan dengan sadar dan dengan tujuan tertentu. Kegiatan membuat ringkasan atau ikhtisar ini biasanya seseorang lakukan setelah dia selesai membaca buku, suatu bab, atau sub bab tertentu. Kegiatan membuat ringkasan atau ikhtisar ini tidak lain adalah kegiatan yang berupaya untuk memadatkan isi dengan landasan kerangka dasarnya dan menghilangkan pikiran-pikiran jabaran.
Mengerjakan tugas
Selama menuntut ilmu di lembaga-lembaga pendidikan formal, baik pelajar atau mahasiswa tidak akan pernah melepaskan diri dari keharusan mengerjakan tugas-tugas studi. Tugas-tugas itu pun dapat mengasah pemahaman para pelajar atau mahasiswa akan materi yang telah diajarkan.
Memanfaatkan Perpustakaan
Perpustakaan sebagai wadah berhimpunnya sejumlah literatur (buku) yang diperuntukkan bagi mereka yang haus ilmu. dengan begitu, maka perpustakaan terkesan menyenangkan dan menyejukkan bagi yang melihat dan mendengarnya. Perpustakaan identik dengan dunia pendidikan. Maka sudah seharusnya fungsi perpustakaan dimaksimalkan. Namun menurut pemakalah, ada baiknya perpustakaan itu sendiri tidak digunakan untuk tempat belajar, karena adanya keramaian pengunjung yang biasanya sesuai dengan banyaknya buku. Perpustakaan dijadikan tempat mengambil informasi-informasi dalam buku-buku. Sedang tempat belajar baiknya berada di tempat yang tidak terlalu ramai bahkan sunyi tenang. Misalnya didekat pancuran air dan tempat yang rimbun pepohonan, dengan bunyi air yang khas insya Allah bisa meningkatkan daya pikir dan berada ditempat yang kaya oksigen bisa membuat suasana menjadi sejuk dan membantu kinerja otak yang membutuhkan oksigen.
Dr. Rudolf Pintner mengemukakan bagaimana cara-cara belajar yang baik sebagai berikut:
Jangka waktu belajar
Dari berbagai percobaan ternyata jangka waktu belajar yang produktif seperti menghafal, mengetik, mengerjakan soal hitungan dan sebagainya adalah antara 20-30 menit. Jangka waktu yang lebih dari itu untuk belajar yang benar-benar memerlukan konsentrasi perhatian relatif kurang atau tidak produktif.
Jangka waktu tersebut tidak berlaku bagi mata pelajaran yang memerlukan pemanasan, seperti sejarah, filsafat dan sebagainya.
Pembagian waktu belajar
Belajar yang terus menerus dalam jangka waktu yang lama tanpa istirahat tidak efisien dan tidak efektif. Sehingga dalam hal ini pembagian waktu belajar sangat diperlukan. Hukum Jost yang sampai sekarang diakui kebenarannya yaitu 30 menit 2 kali sehari dalam 6 hari lebih baik dan efektif dari pada sekali belajar selama 6 jam tanpa berhenti.
Membatasi kelupaan
Bahan pelajaran yang telah kita pelajari sering kali mudah dilupakan. Maka untuk menghindari kelupaan bahkan lupa sama sekali, dalam belajar perlu diadakan review untuk mengingat kembali bahan yang telah dipelajari. Adanya review ini sangat penting, terutama bagi bahan pelajaran yang sangat luas dan memakan waktu beberapa semester untuk mempelajarinya.
Prinsip-Prinsip dalam Belajar
Kematangan jasmani dan rohani
Salah satu prinsip belajar adalah harus mencapai kematangan jasmani dan rohani sesuai dengan tingkatan yang dipelajarinya. Kematangan jasmani yaitu telah sampai pada batas minimal umur serta kondisi fisiknya telah cukup kuat untuk melakukan kegiatan belajar. Kematangan rohani artinya telah memiliki kemampuan secara psikologis untuk melakukan kegiatan belajar. Misalnya kemampuan berpikir, ingatan, fantasi, dan sebagainya.
Memiliki kesiapan
Setiap orang yang hendak melakukan kegiatan belajar harus memiliki kesiapan yakni dengan kemampuan yang cukup baik fisik, mental maupun perlengkapan belajar. Kesiapan fisik berarti memiliki tenaga yang cukup dan kesehatan yang baik, sementara kesiapan mental, memiliki niat dan motivasi yang cukup untuk melakukan kegiatan belajar. Belajar tanpa kesiapan fisik, mental dan perlegkapan akan banyak mengalami kesulitan, akibatnya tidak memperoleh hasil belajar yang baik.
Memahami tujuan
Setiap orang belajar harus memahami apa tujuannya, kemana arah tujuan itu dan apa manfaat bagi dirinya. Prinsip ini sangat penting dimiliki oleh orang belajar agar proses yang dilakukannya dapat cepet selesai dan berhasil. Belajar tanpa memahami tujuan dapat menimbulkan kebingungan pada orang yang hilan kegairahan, tidak sistematis, atau asal ada saja. Orang yang belajar tanpa tujuan ibarat kaal berlayar tanpa tujuan terombang – ambing tak tentu arah yang dituju sehingga akhirnya bisa terlanggar kbatu karang atau terdampar ke suatu pulau.
Memiliki kesungguhan
Orang yang belajar harus memiliki kesungguhan untu melaksanakannya. Belajar tanpa kesungguhan akn memperoleh hasil yang kurang memuaskan. Selain itu akan banyak waktu dan tenaga terbuang dengan percuma. Sebaliknya, belajar dengan sungguh – sungguh serta tekun akn memperoleh hasil yang maksimal dan penggunaan waktu yang efektif. Prinsip kesungguhan sangat penting artinya. Biarpun seseorang itu sudah memiliki kematangan, kesiapan serta mempuyai tujuan yang konkret dalam melakukan kegiatan belajarnya, tetapikalu tidak bersungguh- sungguh, belajar asal ada saja, bermals-malas, akibatnya tidak memperoleh hasil yang memuaskan.
Ulangan dan latihan
Prinsip yang tak kalah pentingnya adalah ulangan dan latihan. Seseuatu yang dipelajari perlu diulang agar meresap dalam otak, sehingga dikusai sepenuhnya dan sukar dilupakan. Sebaliknya belajar tanpa diulang hasilnya akan kurang memuaskan. Bagaimanapun pintarnya seseorang harus mengulang pelajarannya atau berlatih sendiri dirumah agar bahan-bahan yang dipelajari tambah meresap dalam otak, sehingga tahan lama dalam ingatan. Mengulang pelajaran adalah salah satu cara untuk membantu berfungsinya ingatan.
Saran-saran untuk membiasakan belajar yang optimal dan efisien.
Berikut ini adalah saran-saran yang dikemukakan Crow dengan singkat dan terinci untuk mencapai hasil belajar yang efisien:
Miliki dahulu tujuan belajar yang pasti.
Usahakan adanya tempat belajar yang memadahi.
Jaga kondisi fisik jangan sampai mengganggu konsentrasi dan keaktifan mental.
Rencanakan dan ikutilah jadwal untuk waktu belajar.
Selingilah belajar itu dengan waktu-waktu istirahat yang teratur.
Carilah kalimat-kalimat topik atau inti pengertian dari setiap paragrap.
Selama belajar gunakan metode pengulangan dalam hati (silent recitation).
Lakukan meode keseluruhan (whole methode) bilamana mungkin.
Usahakan agar dapat membaca cepat tetapi cermat.
Buatlah catatan-catatan atau rangkuman yang tersusun rapi.
Adakan penilaian terhadap kesulitan bahan untuk dipelajari lebih lanjut.
Susunlah dan buatlah pertanyaan-pertanyaan yang tetap, dan usahakan / cobalah untuk menemukan jawabannya.
Pusatkan perhatian dengan sungguh-sungguh pada waktu belajar.
Pelajari dengan teliti tabel-tabel, grafik-grafik dan bahan ilustrasi lainnya.
Biasakanlah membuat rangkuman dan kesimpulan.
Buatlah kepastian untuk melengkapi tugas – tugas belajar itu.
Pelajari baik-baik yang dikemukakan oleh pengarang, dan tenanglah jika diragukan kbenarannya.
Analisis kebiasaan belajar yang dilakukan, dan cobalah untuk memperbaiki kelemahan-kelemahannya.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Hakikat belajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Perubahan dan tingkah laku menjadi dua mainstream utama di mana seseorang dapat dikatakan telah mengalami proses pembelajaran.
Sebagai negara yang akan maju dengan pendidikan ini maka belajar mempunyai arti penting dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air, seperti dalam cita-cita bangsa nomor dua yaitu Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Maka jelaslah bahwa suatu keberhasilan individu, kelompok bahkan negara dapat terwujud dengan suatu ajaran pendidikan yang dinamakan dengan belajar.
PENUTUP
Demikianlah yang dapat kami paparkan mengenai materi Konsep Dasar Belajar dan Prinsip-Prinsip Belajar, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahan yang kiranya belum kami ketahui. Penulis banyak berharap kepada para pembaca yang budiman memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi kesempurnaan makalah ini dan sekaligus makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
M. Ngalim Purwanto. Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), Hal. 114-115
M. Dalyono. Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), Hal. 51-54
M. Ngalim Purwanto. Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), Hal. 120-121
Syaiful Bahri Djamarah. Rahasia Sukses Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), Hal. 40
Konsep Dasar Belajar
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Belajar merupakan kunci yang paling vital dari setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin Ilmu yang berkaitan dengan upaya kependidikan, misalnya psikologi pendidikan dan psikologi belajar. Karena begitu pentingnya arti belajar maka bagian terbesar upaya riset dan eksperimen psikologi belajar pun diarahkan pada pencapaian pemahaman yang lebih luas dan mendalam mengenai proses perubahan manusia itu.
Konsep dasar belajar merupakan perubahan perilaku manusia manusia. Perubahan dan Kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Disebabkan karena kemampuan belajarlah manusia dapat berkembang lebih jauh dari makhluk lainya.
Belajar umumnya adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti berhasil atau gagalnya pencapaian pendidikan itu sangat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa keluarga baik ketika berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri. Oleh karena itu pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik. Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal-hal yang berkaitan dengannya mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan tema pada makalah yang kami susun, maka kami menyimpulkan lima rumusan masalah yang perlu dibahas yaitu:
Apa saja definisi dari belajar?
Bagaimana proses dan tahapan belajar?
Bagaimanakah cara-cara belajar yang baik?
Apakah prinsip-prinsip dalam belajar?
Apa saja saran yang perlu diketahui untuk membiasakan belajar yang optimal dan efisien?
BAB II
PEMBAHASAN
Definisi Belajar
Belajar (Ing: to study) berasal dari kata benda dasar ajar artinya petunjuk yang diberikan kepada seseorang supaya diketahui. Dengan demikian belajar mempunyai beberapa arti yaitu berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih dan berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.
Skinner, seorang pakar teori belajar dalam buku Educational Psychology berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif. Pendapat ini diungkapkan dengan pernyataan ringkasnya, bahwa belajar adalah: “…a proces of progressive behaviour adaptation ”. Berdasarkan eksperimennya, Skinner percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila belajar diberi penguat (reinforcer).
Hintzman dalam bukunya The Pshycology of Learning and Memory berpendapat bahwa: “learning is a change in organism due to experience which can affect the organism’s behaviour”. Jadi dalam pandangan Hintzman, perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi organisme.
Dalam penjelasan selanjutnya, Hintzman menambahkan bahwa pengalaman hidup sehari-hari dalam bentuk apa pun sangat memungkinkan untuk diartikan sebagai belajar. Alasannya, sampai batas tertentu pengalaman hidup juga berpengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian organisme yang bersangkutan. Mungkin inilah dasar pemikiran yang mengilhami gagasan everyday learning yang dipopulerkan oleh Profesor John B. Biggs.
Biggs sendiri mendefinisikan belajar menjadi tiga macam rumusan, yaitu rumusan kuantitatif, rumusan institusional dan rumusan kualitatif. Dalam rumusan-rumusan ini kata seperti perubahan dan tingkah laku tidak lagi disebut secara eksplisit mengingat kedua istilah ini menjadi kebenaran umum yang diketahui semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan.
Secara kuantitatif, belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi, belajar dalam hal ini dipandang dari sudut berapa banyak materi yang dikuasai siswa.
Secara institusional, belajar dipandang sebagai proses validasi terhadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah mereka pelajari. Ukurannya adalah semakin baik mutu mengajar yang dilakukan guru maka akan semakin baik pula mutu perolehan siswa yang kemudian dinyatakan dalam bentuk skor atau nilai.
Adapun pengertian balajar secara kualitatif adalah proses memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia disekeliling siswa. Belajar dalam pengertian ini difokuskan pada tercapainya daya pikir dan tindakan yang berkualitas untuk memecahkan masalah-masalah yang sedang dan akan dialami siswa.
Berdasarkan berbagai pendapat para pakar yang telah diuraikan di atas, secara umum belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.
Proses dan Tahapan Belajar
Proses berasal dari bahasa Latin processus yang berarti berjalan kedepan. Kata ini mempunya konotasi urutan langkah atau kemajuan yang mengarah pada suatu tujuan. Reber mengatakan dalam psikologi belajar, proses berarti cara atau langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapai nya hasil-hasil tertentu. Jadi, proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan proses perubahan perilaku kognitif, efektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi kearah yang lebih maju dari pada keadaan sebelumnya.
Menurut Arno F. Wittig (1981) dalam bukunya Psychology of Learning, setiap proses belajar selalu berlangsung dalam tiga tahapan yaitu:
Tahap penerimaan informasi
Tahap penyimpanan informasi
Tahap memanggil kembali informasi
Storage Recall
Acquisition
Pada tingkatan pertama seorang siswa mulai menerima informasi sebagai stimulus dan melakukan respons terhadapnya, sehingga menimbulkan pemahaman dan perilaku baru. Pada tahap ini terjadi pula asimilasi antara pemahaman dengan perilaku baru dalam kesulurahan perilakunya. Proses penerimaan dalam belajar merupakan tahap yang paling mendasar. Kegagalan dalam tahap ini akan mengakibatkan kegagalan pada tahap-tahap berikutnya.
Pada tingkatan penyimpanan, seorang siswa secara otomatis akan mengalami proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang mereka peroleh ketika dalam tahap penerimaan informasi. Peristiwa ini sudah tentu melibatkan fungsi short term dan long term memori.
Pada tingkatan terakhir, peserta didik akan mengaktifkan kembali fungsi-fungsi sistem memorinya seperti ketika menjawab pertanyaan atau menyelesaikan masalah. Tahap ini pada dasarnya adalah upaya atau peristiwa mental dalam mengungkapkan dan memproduksi kembali informasi yang tersimpan dalam memori sebagai respons yang sedang dihadapi.
Menurut Albert Bandura (1977), seorang behaviouris moderat penemu teori social learning, bahwa setiap proses belajar (terutama belajar social dalam menggunakan model) terjadi dalam tahapan peristiwa berikut:
Attentional Phase
Retention Phase
Reproduction Phase
Motivation Phase
Impuls Response
Tahap-tahap di atas berawal dari adanya peristiwa stimulus atau sajian perilaku model dan berakhir dengan penampilan atau kinerja (performance) tertentu sebagai hasil belajar seorang siswa. Dalam bukunya, Social Learning Theory, Albert Bandura sebagaimana yang dikutip oleh Pressly dan McCormic (1995:217-218) menguraikan tahapan-tahapan tersebut seperti tahapan-tahapan di bawah ini.
Tahap Perhatian. Pada tahap pertama ini para siswa pada umunya memusatkan perhatian pada objek materi atau perilaku model yang lebih menarik terutama karena keunikannya dibanding dengan materi atau dengan perilaku lain yang sebelumnya telah mereka ketahui. Untuk menarik perhatian para peserta didik, guru dapat mengekspresikan suara dengan intonasi khusus ketika menyajikan pokok materi atau bergaya dengan mimik tersendiri ketika menyajikan contoh perilaku tertentu.
Tahap Penyimpanan. Dalam tahap ini informasi berupa materi dan contoh perilaku model itu ditangkap, diproses dan disimpan dalam memori. Para peserta didik lazimnya akan lebih baik dalam menangkap dan menyimpan segala informasi yang disampaikan atau perilaku yang dicontohkan apabila disertai penyebutan atau penulisan nama, istilah dan label yang jelas serta contoh perbuatan yang akurat.
Tahap Reproduksi. Segala bayangan atau kode-kode simbolis yang berisi informasi pengetahuan dan perilaku yang telah tersimpan dalam memori peserta didik itu diproduksi kembali. Untuk mengidentifikasi tingkat penguasaan para peserta didik, guru dapat menyuruh mereka membuat atau melakukan lagi apa yang telah mereka serap.
Tahap Motivasi. Tahap terakhir dalam proses terjadinya belajar atau pembelajaran adalah tahap penerimaan dorongan yang dapat berfungsi sebagai reinforcement. Pada tahap ini, guru dianjurkan untuk memberi pujian, hadiah, atau nilai tertentu kepada peserta didik yang kinerjanya memuaskan. Sementara mereka yang belum menunjukkan kinerja yang memuaskan perlu diyakinkan akan arti penting penguasaan materi atau perilaku yang disajikan guru bagi kehidupan mereka. Seiring dengan upaya ini, ada baiknya ditunjukkan pula bukti-bukti kerugian orang yang tidak menguasai materi tersebut.
Cara Belajar yang Baik
Setiap peserta didik yang ingin berhasil dalam belajarnya pasti akan berusaha agar tujuannya bisa tercapai. Berbagai usaha dapat dilakukan untuk memperoleh hasil yang maksimal. Usaha untuk memperoleh hasil yang maksimal pada intinya adala belajar dengan cara yang baik, sesuai, tepat dan efektif. Namun model belajar setiap orang bisa berbeda-beda karena pengalaman keberhasilan seseorang dalam studinya tidak selalu sama persis. Maka disini akan disampaikan hal yang umumnya saja tentang hal yang perlu diperhatikan untuk cara belajar dengan baik, di antaranya adalah:
Mempunyai Fasilitas dan Perabotan Belajar.
Orang yang belajar tanpa dibantu dengan fasilitas tidak jarang mendapatkan hambatan dalam menyelesaikan kegiatan belajar. Karenanya fasilitas tidak bisa diabaikan dalam masalah belajar.
Fasilitas dan perabot belajar yang dimaksud tentu saja berhubungan dengan masalah materiil berupa kertas, pensil, buku catatan, meja dan kursi, mesin ketik (sekarang umumnya komputer), kertas karbon dan sebagainya.
Mengatur Waktu Belajar
Pelajar tidak bisa membagi waktunya akan menghadapi kebingungan, pelajaran apa yang harus dipelajari hari ini atau esok hari. Mahasiswa akan merasakan waktu yang terlalu sempit untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah belajar.dengan demikian, pelajar atau mahasiswa jangan sekali-kali mengabaikan masalah pembagian waktu ini, sekiranya ingin menjadi orang yang sukses studi.
Menguasai Bahan Pelajaran.
Setelah sekolah atau kuliah, jangan lupa untuk mengulangi bahan pelajaran di rumah atau di asrama. Apa yang guru / dosen jelaskan tidak mesti semuanya terkesan dengan baik. Tentu ada kesan-kesan yang masih samar-samar dalam ingatan. Pengulangan sangat membantu untuk memperbaiki semua kesan yang masih samar-samar itu untuk menjadi kesan-kesan yang sesungguhnya, yang tergambar jelas dalam ingatan.
Menghafal bahan pelajaran.
Menghafal bahan pelajaran merupakan salah satu kegiatan dalam rangka penguasaan bahan.
Membaca buku
Kegiatan membaca adalah kegiatan yang paling banyak dilakukan selama menuntut ilmu di sekolah atau di perguruan tinggi.
Membuat ringkasan dan ikhtisar.
Bagian kegiatan yang tidak kalah pentingnya dari semua kegiatan belajar adalah membuat ringkasan atau ikhtisar. Kegiatan ini dilakukan dengan sadar dan dengan tujuan tertentu. Kegiatan membuat ringkasan atau ikhtisar ini biasanya seseorang lakukan setelah dia selesai membaca buku, suatu bab, atau sub bab tertentu. Kegiatan membuat ringkasan atau ikhtisar ini tidak lain adalah kegiatan yang berupaya untuk memadatkan isi dengan landasan kerangka dasarnya dan menghilangkan pikiran-pikiran jabaran.
Mengerjakan tugas
Selama menuntut ilmu di lembaga-lembaga pendidikan formal, baik pelajar atau mahasiswa tidak akan pernah melepaskan diri dari keharusan mengerjakan tugas-tugas studi. Tugas-tugas itu pun dapat mengasah pemahaman para pelajar atau mahasiswa akan materi yang telah diajarkan.
Memanfaatkan Perpustakaan
Perpustakaan sebagai wadah berhimpunnya sejumlah literatur (buku) yang diperuntukkan bagi mereka yang haus ilmu. dengan begitu, maka perpustakaan terkesan menyenangkan dan menyejukkan bagi yang melihat dan mendengarnya. Perpustakaan identik dengan dunia pendidikan. Maka sudah seharusnya fungsi perpustakaan dimaksimalkan. Namun menurut pemakalah, ada baiknya perpustakaan itu sendiri tidak digunakan untuk tempat belajar, karena adanya keramaian pengunjung yang biasanya sesuai dengan banyaknya buku. Perpustakaan dijadikan tempat mengambil informasi-informasi dalam buku-buku. Sedang tempat belajar baiknya berada di tempat yang tidak terlalu ramai bahkan sunyi tenang. Misalnya didekat pancuran air dan tempat yang rimbun pepohonan, dengan bunyi air yang khas insya Allah bisa meningkatkan daya pikir dan berada ditempat yang kaya oksigen bisa membuat suasana menjadi sejuk dan membantu kinerja otak yang membutuhkan oksigen.
Dr. Rudolf Pintner mengemukakan bagaimana cara-cara belajar yang baik sebagai berikut:
Jangka waktu belajar
Dari berbagai percobaan ternyata jangka waktu belajar yang produktif seperti menghafal, mengetik, mengerjakan soal hitungan dan sebagainya adalah antara 20-30 menit. Jangka waktu yang lebih dari itu untuk belajar yang benar-benar memerlukan konsentrasi perhatian relatif kurang atau tidak produktif.
Jangka waktu tersebut tidak berlaku bagi mata pelajaran yang memerlukan pemanasan, seperti sejarah, filsafat dan sebagainya.
Pembagian waktu belajar
Belajar yang terus menerus dalam jangka waktu yang lama tanpa istirahat tidak efisien dan tidak efektif. Sehingga dalam hal ini pembagian waktu belajar sangat diperlukan. Hukum Jost yang sampai sekarang diakui kebenarannya yaitu 30 menit 2 kali sehari dalam 6 hari lebih baik dan efektif dari pada sekali belajar selama 6 jam tanpa berhenti.
Membatasi kelupaan
Bahan pelajaran yang telah kita pelajari sering kali mudah dilupakan. Maka untuk menghindari kelupaan bahkan lupa sama sekali, dalam belajar perlu diadakan review untuk mengingat kembali bahan yang telah dipelajari. Adanya review ini sangat penting, terutama bagi bahan pelajaran yang sangat luas dan memakan waktu beberapa semester untuk mempelajarinya.
Prinsip-Prinsip dalam Belajar
Kematangan jasmani dan rohani
Salah satu prinsip belajar adalah harus mencapai kematangan jasmani dan rohani sesuai dengan tingkatan yang dipelajarinya. Kematangan jasmani yaitu telah sampai pada batas minimal umur serta kondisi fisiknya telah cukup kuat untuk melakukan kegiatan belajar. Kematangan rohani artinya telah memiliki kemampuan secara psikologis untuk melakukan kegiatan belajar. Misalnya kemampuan berpikir, ingatan, fantasi, dan sebagainya.
Memiliki kesiapan
Setiap orang yang hendak melakukan kegiatan belajar harus memiliki kesiapan yakni dengan kemampuan yang cukup baik fisik, mental maupun perlengkapan belajar. Kesiapan fisik berarti memiliki tenaga yang cukup dan kesehatan yang baik, sementara kesiapan mental, memiliki niat dan motivasi yang cukup untuk melakukan kegiatan belajar. Belajar tanpa kesiapan fisik, mental dan perlegkapan akan banyak mengalami kesulitan, akibatnya tidak memperoleh hasil belajar yang baik.
Memahami tujuan
Setiap orang belajar harus memahami apa tujuannya, kemana arah tujuan itu dan apa manfaat bagi dirinya. Prinsip ini sangat penting dimiliki oleh orang belajar agar proses yang dilakukannya dapat cepet selesai dan berhasil. Belajar tanpa memahami tujuan dapat menimbulkan kebingungan pada orang yang hilan kegairahan, tidak sistematis, atau asal ada saja. Orang yang belajar tanpa tujuan ibarat kaal berlayar tanpa tujuan terombang – ambing tak tentu arah yang dituju sehingga akhirnya bisa terlanggar kbatu karang atau terdampar ke suatu pulau.
Memiliki kesungguhan
Orang yang belajar harus memiliki kesungguhan untu melaksanakannya. Belajar tanpa kesungguhan akn memperoleh hasil yang kurang memuaskan. Selain itu akan banyak waktu dan tenaga terbuang dengan percuma. Sebaliknya, belajar dengan sungguh – sungguh serta tekun akn memperoleh hasil yang maksimal dan penggunaan waktu yang efektif. Prinsip kesungguhan sangat penting artinya. Biarpun seseorang itu sudah memiliki kematangan, kesiapan serta mempuyai tujuan yang konkret dalam melakukan kegiatan belajarnya, tetapikalu tidak bersungguh- sungguh, belajar asal ada saja, bermals-malas, akibatnya tidak memperoleh hasil yang memuaskan.
Ulangan dan latihan
Prinsip yang tak kalah pentingnya adalah ulangan dan latihan. Seseuatu yang dipelajari perlu diulang agar meresap dalam otak, sehingga dikusai sepenuhnya dan sukar dilupakan. Sebaliknya belajar tanpa diulang hasilnya akan kurang memuaskan. Bagaimanapun pintarnya seseorang harus mengulang pelajarannya atau berlatih sendiri dirumah agar bahan-bahan yang dipelajari tambah meresap dalam otak, sehingga tahan lama dalam ingatan. Mengulang pelajaran adalah salah satu cara untuk membantu berfungsinya ingatan.
Saran-saran untuk membiasakan belajar yang optimal dan efisien.
Berikut ini adalah saran-saran yang dikemukakan Crow dengan singkat dan terinci untuk mencapai hasil belajar yang efisien:
Miliki dahulu tujuan belajar yang pasti.
Usahakan adanya tempat belajar yang memadahi.
Jaga kondisi fisik jangan sampai mengganggu konsentrasi dan keaktifan mental.
Rencanakan dan ikutilah jadwal untuk waktu belajar.
Selingilah belajar itu dengan waktu-waktu istirahat yang teratur.
Carilah kalimat-kalimat topik atau inti pengertian dari setiap paragrap.
Selama belajar gunakan metode pengulangan dalam hati (silent recitation).
Lakukan meode keseluruhan (whole methode) bilamana mungkin.
Usahakan agar dapat membaca cepat tetapi cermat.
Buatlah catatan-catatan atau rangkuman yang tersusun rapi.
Adakan penilaian terhadap kesulitan bahan untuk dipelajari lebih lanjut.
Susunlah dan buatlah pertanyaan-pertanyaan yang tetap, dan usahakan / cobalah untuk menemukan jawabannya.
Pusatkan perhatian dengan sungguh-sungguh pada waktu belajar.
Pelajari dengan teliti tabel-tabel, grafik-grafik dan bahan ilustrasi lainnya.
Biasakanlah membuat rangkuman dan kesimpulan.
Buatlah kepastian untuk melengkapi tugas – tugas belajar itu.
Pelajari baik-baik yang dikemukakan oleh pengarang, dan tenanglah jika diragukan kbenarannya.
Analisis kebiasaan belajar yang dilakukan, dan cobalah untuk memperbaiki kelemahan-kelemahannya.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Hakikat belajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Perubahan dan tingkah laku menjadi dua mainstream utama di mana seseorang dapat dikatakan telah mengalami proses pembelajaran.
Sebagai negara yang akan maju dengan pendidikan ini maka belajar mempunyai arti penting dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air, seperti dalam cita-cita bangsa nomor dua yaitu Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Maka jelaslah bahwa suatu keberhasilan individu, kelompok bahkan negara dapat terwujud dengan suatu ajaran pendidikan yang dinamakan dengan belajar.
PENUTUP
Demikianlah yang dapat kami paparkan mengenai materi Konsep Dasar Belajar dan Prinsip-Prinsip Belajar, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahan yang kiranya belum kami ketahui. Penulis banyak berharap kepada para pembaca yang budiman memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi kesempurnaan makalah ini dan sekaligus makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
M. Ngalim Purwanto. Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), Hal. 114-115
M. Dalyono. Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), Hal. 51-54
M. Ngalim Purwanto. Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), Hal. 120-121
Syaiful Bahri Djamarah. Rahasia Sukses Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), Hal. 40